PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Kementerian Perhubungan resmi menaikkan tarif ojek online (Ojol). Kenaikan tarif ojol tersebut berlaku mulai Sabtu (10/9/2022) kemarin. Apakah benar kenaikan tarif ini turut menguntungkan driver ojek online?
Ditemui Sabtu (10/9/2022) siang dalam cuaca yang cerah. Tim portalmedia.id mencoba bercengkrama dengan salah satu driver ojek online dari salah satu aplikasi ojek daring, Gojek.
Baca Juga : Wali Kota Munafri Perjuangkan Akses Laut dan Dermaga Pulau di Kemenhub
Aplikasi ini tentu tidak asing, hampir semua pemilik smart phone menggunakannya, hampir semua kebutuhan pribadi manusia tersedia lewat satu aplikasi ini dan diterima secara instan oleh pemakainya.
Era disrupsi yang melanda seluruh unit usaha terkoneksi melalui IT atau internet dan digitalisasi adalah evolusi teknologi yang dimanfaatkan Gojek dalam memasarkan programnya melalui driver ojol.
Nawir (nama samaran), Ia adalah salah satu dari ratusan driver online yang berlalu lalang di lintasan jalan Makassar. Kami menemuinya siang itu, di pinggir jalan Abdullah Daeng Sirua, salah satu ruas jalan padat di Makassar.
Baca Juga : Kurangi Risiko Kecelakaan, Kemenhub Ajak Pemudik Gunakan Motis 2025
Ketika dihampiri, nampak, ia sedang sibuk menggunakan ponsel pintarnya. Maklum saja, Nawir harus sering memantau smartphone karena tak ada orderan manual. Praktis semua lewat online.Jika tak online yah, tak ada orderan masuk.
Saat ditanyai mengenai penyesuain tarif aplikasi yang mulai diberlakukan Kementerian Perhubungan, Ia mengatakan, penyesuaian atau kenaikan tarif ojol pada dasarnya menjadi harapan driver.
"Awalnya kami juga berharap segera dilakukan penyesuaian tarif, namun hal ini juga dibarengi dengan tidak memberikan potongan slot terlalu banyak di aplikasi Gojek," ujar Nawir.
Baca Juga : Badan Kebijakan Transportasi Keluarkan 4 Rekomendasi Atasi Mahalnya Tiket Pesawat
Ia merinci, saat ini kenaikan biaya ojol hanya 8 persen, dan potongan aplikator tetap 20 persen. "Kalau bisa potongan aplikatornya 10-15% saja. Supaya kami juga bisa untung. Selama ini kami selalu dituduh dapat untung banyak dan manfaatkan kesematan. Tapi sebenarnya tidak ji. Karena memang potongan aplikasi yang telalu tinggi. Kami hanya jalankan sesuai yang ada di aplikasi," ujarnya menyayangkan.
"Ada juga sebenarnya biaya layanan jasa, tapi aplikator yang ambil. Biasanya 8000. Semakin jauh jaraknya semakin banyak na ambil di aplikator," lanjut Nawir.
Sambil menunggu orderan, Nawir melanjutkan cerita kepada portalmedia.id, katanya Ia sudah 6 tahun berprofesi sebagai driver ojol tepatnya 2006.
Baca Juga : Kemenhub Tegur Keras Garuda Indonesia
Awalnya, Nawir merasa senang. Sebab, kebutuhan ekonominya dapat terpenuhi, sebab bisa menghasilkan bonus besar-besaran lewat aplikasi Gojek.
Sambil menghapus peluh, Nawir bercerita kalau pendapatannyasaat ini tak lagi seperti dulu, apalagi sejak pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Makanya harapanku sekarang di gojek tidak seperti dulu. Pokoknya gojek sekarang pendapatannya menurun sekali. Apajimau didapat kodong kalau tidak ada penyesuaian. Baru banyak sekali potongan lewat aplikasi. Samaji itu kalau perusahaa dicarikan uang," tuturnya dengan dialek Makassar dan mata berkaca-kaca.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News