PORTALMEDIA.ID -- Di tengah bearish atau penurunan harga di pasar kripto, investor Bitcoin kelas teri justru terlihat aktif membeli, mengakumulasi kepemilikkan di kala harga terus bergerak lebih rendah.
Dari sudut pandang jangka panjang, harga saat ini tampak seperti diskon besar, mengingat telah terdepresiasi lebih dari 60 persen dari harga tertinggi sepanjang masanya (ATH).
Meski sentimen global belum mampu memoles sisi fundamental dari BTC, ini tampaknya tidak menghambat aksi investor Bitcoin kelas teri untuk masuk, yakni investor yang memiliki kepemilikkan BTC minimal satu koin di dompetnya.
Baca Juga : Semester I 2024, Pencurian Kritpo oleh Peretas Capai Rp22.427 T
Berdasarkan laporan U Today, jumlah alamat dompet kripto yang memegang BTC, setidaknya satu koin, telah meningkat dengan pesat.
Berdasarkan grafik dari Glassnode di atas, jumlah alamat investor kelas teri telah melesat mendekati 880.000 dompet di saat harga kian merosot.
Investor dan pedagang ritel juga terlihat mulai melakukan akumulasi sejak pertengahan bulan Juli 2021.
Baca Juga : Kripto Kraken Tutup Kantor di Abu Dhabi
Data tersebut menunjukkan bahwa, investor Bitcoin kelas teri lebih berorientasi dalam investasi jangka panjang, alias HODLing, menghindari potensi kerugian jika memperdagangkannya.
Selain itu, tingkat adopsi dan pertumbuhan minat terhadap aset digital membuat investor BTC meningkat, menjadi tanda baik dari kepercayaan ritel terhadap masa depan aset kripto utama ini.
Data tersebut juga mengartikan bahwa, investor besar seperti institusi yang memicu dorongan jual hebat karena menyikapi langkah agresif dari bank sentral AS, the Fed.
Baca Juga : Aset Digital Terpantau Bangkit Lagi, Bitcoin Naik Awal Tahun Ini
The Fed yang giat menaikkan suku bunga guna melawan inflasi telah menyusutkan selera risiko, sehingga investor institusi merasa perlu mengatur ulang portofolio mereka, termasuk melepas BTC dan beralih ke mata uang AS.
Namun, ada hal menarik yang terjadi pada Selasa malam (5/7/2022), di mana harga Bitcoin terdorong naik di saat kekhawatiran resesi kian meningkat.
Itu telah mengangkat nilai dari dolar AS, melemahkan beberapa mata uang fiat utama seperti euro, poundsterling, dolar Kanada dan lainnya. Namun, itu tidak terjadi pada Bitcoin.
Baca Juga : Bitcoin Langka, 1,2 Juta Koin Hilang Permanen dari Peredaran
Meski begitu, ini masih terlihat dari sudut pandang jangka pendek, karena belum ada sentimen yang benar-benar kuat untuk menjadi dasar pembalikkan tren pada pasar kripto. Bearish pasar kripto masih membayangi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News