MAKASSAR, portalmedia.id — Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data mengejutkan terkait potret pangan nasional. Produksi gabah dan beras secara nasional tiba-tiba diproyeksikan mengalami penurunan sepanjang periode Januari hingga Juli 2026.
BPS memperkirakan produksi beras nasional hanya akan menyentuh angka 21,95 juta ton. Jumlah ini menyusut sekitar 0,08 juta ton atau setara 0,35 persen jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun 2025 lalu.
Anomali Cuaca dan Menyusutnya Panen April
Baca Juga : BMKG Peringatkan Perubahan Iklim Picu Cuaca Ekstrem di Indonesia
Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa pemicu utama melambatnya pasokan ini disebabkan oleh penurunan luas panen di sejumlah daerah akibat pola musim yang bergeser, ancaman banjir, hingga serangan hama. Bahkan, jika dibedah secara bulanan, performa panen padi pada April 2026 kemarin sempat anjlok hingga 15 persen secara tahunan (yoy).
"Penurunan produksi beras pada periode Januari-Juli 2026 ini utamanya dipicu oleh penurunan luas panen padi pada April 2026 yang turun cukup dalam, yaitu sebesar 15,03 persen (yoy)," ujar Amalia dalam konferensi pers resmi di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa fluktuasi cuaca ekstrem sangat memengaruhi hasil di lapangan. "Realisasi produksi padi pada April-Mei dan potensi Juni-Juli dipengaruhi oleh pergeseran musim tanam dan panen, cuaca ekstrem banjir di beberapa wilayah, serta serangan hama penyakit tanaman," imbuhnya.
Baca Juga : BMKG Keluarkan Peringatan Cuaca Ekstrem, Nakhoda Kapal Diminta Waspada
Posisi Strategis Sulawesi Selatan: Lumbung yang Harus Waspada
Melihat tren penurunan nasional tersebut, performa pertanian Sulawesi Selatan memegang peran krusial sebagai penyeimbang. Sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Indonesia Timur, Sulsel sebenarnya menutup tahun sebelumnya dengan catatan impresif, di mana produksi berasnya naik signifikan mencapai 3,10 juta ton. Daerah seperti Kabupaten Sidrap bahkan menjadi penyumbang kenaikan gabah terbesar di tingkat provinsi.
Namun, penurunan kuartal kedua 2026 di tingkat nasional menjadi sinyal kuning bagi ketahanan pangan lokal. Pengamat pertanian daerah mengingatkan bahwa Sulsel tidak boleh terlena dengan surplus masa lalu. Jika serangan hama dan fluktuasi cuaca di sentra-sentra padi Sulsel tidak diantisipasi, target surplus bisa ikut tergerus arus penurunan nasional.
Baca Juga : Dinas BMBK Sulsel Pantau Kondisi Jalan Akibat Cuaca Ekstrem
Pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sulsel pun menegaskan komitmennya untuk terus mengawal sisa masa panen tahun ini agar tidak kecolongan oleh cuaca ekstrem.
"Kita harus memastikan mitigasi di lapangan berjalan optimal. Pompanisasi dan distribusi benih unggul tahan hama terus digenjot di sentra-sentra seperti Bone, Sidrap, dan Wajo agar pasokan lokal kita tetap kokoh menyangga kebutuhan Indonesia Timur," ungkap perwakilan dinas terkait secara terpisah.
Komitmen Jaga Pasokan dan Distribusi
Baca Juga : Kepala BMKG Sebut Curah Hujan Bisa Meningkat Hingga 40%
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Bulog wilayah terus berupaya memperketat pengawasan serapan gabah di tingkat petani lokal. Langkah ini diambil guna memastikan stok beras untuk konsumsi masyarakat Sulsel tetap aman sekaligus menjaga peran provinsi ini sebagai pemasok utama bagi wilayah luar Sulawesi yang mengalami defisit pangan.
BPS mewanti-wanti agar seluruh daerah sentra pertanian tetap melakukan mitigasi ketat di lapangan, sebab angka potensi ini masih sangat dinamis dan bergantung pada kondisi iklim hingga bulan Juli mendatang (red).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News