0%
Rabu, 09 September 2026 09:13

Ribuan Penerbangan Lumpuh Imbas Abu Anak Krakatau, Logistik hingga UMKM Terancam

Editor : Agung
Ribuan Penerbangan Lumpuh Imbas Abu Anak Krakatau, Logistik hingga UMKM Terancam
ist

Sejumlah ekonom menilai, pembatalan penerbangan massal ini secara langsung menghantam sektor-sektor krusial seperti pariwisata, perhotelan, logistik kargo, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

JAKARTA, PORTALMEDIA.ID – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Sabtu (5/9/2026) di perairan Selat Sunda tidak hanya melumpuhkan sektor penerbangan, tetapi juga berpotensi memicu efek domino terhadap perekonomian nasional. Sebaran abu vulkanik yang meluas hingga Banten, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatra Selatan telah berdampak pada sedikitnya 2.961 penerbangan dan 341 ribu penumpang hingga Senin (7/9).

Sejumlah ekonom menilai, pembatalan penerbangan massal ini secara langsung menghantam sektor-sektor krusial seperti pariwisata, perhotelan, logistik kargo, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menegaskan bahwa kerugian ekonomi tidak hanya dihitung dari kerusakan fisik aset, melainkan hilangnya pendapatan harian para pelaku usaha dan pekerja. Sektor pariwisata, kuliner, serta transportasi darat menjadi pihak yang paling cepat merasakan imbasnya akibat pembatalan perjalanan secara beruntun.

"Jika wisatawan menunda perjalanan, tingkat hunian hotel turun, pesanan restoran berkurang, dan armada wisata menganggur. Pekerja harian serta pelaku UMKM destinasi menjadi kelompok yang paling rentan karena kehilangan arus kas harian," kata Syafruddin, Selasa (8/9/2026).

Dari sisi logistik, terganggunya jalur udara berpotensi menghambat pengiriman komoditas sensitif waktu (time-sensitive), seperti obat-obatan, barang mudah rusak (perishable goods), dan komponen manufaktur. Pengalihan pengiriman ke jalur darat atau laut dipastikan menambah waktu tempuh dan memicu pembengkakan biaya operasional.

Syafruddin menambahkan, meski gangguan beberapa hari belum otomatis memicu inflasi secara nasional, risiko kenaikan harga tetap membayangi tingkat lokal. "Tekanan harga berpotensi terjadi pada pangan segar dan obat-obatan, terutama di wilayah yang sangat bergantung pada konektivitas udara," jelasnya.

Perlu Mitigasi dan Respons Cepat

Senada dengan hal tersebut, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, menyebutkan bahwa gangguan penerbangan menciptakan multiplier effect yang cukup tajam di daerah terdampak.

"Satu penerbangan yang dibatalkan bukan hanya merugikan maskapai, tetapi juga mematikan rantai bisnis perhotelan, restoran, hingga jasa transportasi lokal," ungkap Ronny.

Ronny mengingatkan agar pemerintah segera bergerak mengamankan rute distribusi bahan pokok serta kebutuhan dasar guna mencegah kelangkaan barang yang dapat memicu lonjakan harga.

"Pemerintah perlu membangun crisis logistics dashboard yang mengintegrasikan informasi maskapai, pelabuhan, jalan raya, hingga stok pangan. Jangan menunggu harga naik baru bertindak," tegasnya.

Para ahli menyarankan agar pemerintah pusat dan daerah segera menyiapkan jalur transportasi alternatif, memprioritaskan kelancaran pasokan energi dan Pangan, serta menyalurkan bantuan sosial atau dukungan modal kerja sementara bagi pekerja informal dan UMKM yang terdampak langsung oleh bencana ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar