PORTALMEDIA.id, LUWU TIMUR — Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Sulawesi Selatan memperketat patroli dan pengawasan di kawasan hutan Loeha Raya-Tanamalia, Kabupaten Luwu Timur. Langkah terpadu bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Larona dan aparat gabungan ini diambil menyusul lonjakan titik panas (hotspot) yang terindikasi bersumber dari pembukaan lahan perkebunan dengan cara membakar.
Berdasarkan data pemantauan, luas bukaan lahan di kawasan tersebut melonjak drastis hingga 218 persen sepanjang musim kemarau periode Juni–September 2026. Luas area yang terbuka meningkat dari 18,79 hektare menjadi 59,77 hektare, dengan eskalasi tertinggi terjadi pada rentang Juli–Agustus yang mencapai 104 persen.
Sebanyak 89 persen dari total bukaan lahan sepanjang April hingga September 2026 terkonsentrasi pada musim kemarau. Angka kumulatif 59,77 hektare tersebut masih merupakan data sementara per 24 September 2026.
Kepala KPH Larona sekaligus anggota Satgas Karhutla Sulsel, Pasi Nikmad Ali, mengonfirmasi tingginya indikasi kebakaran hutan dan lahan di Tanamalia yang dipicu perambahan kawasan.
"Kalau dilihat dari pantauan hotspot, karhutla di Tanamalia cukup tinggi dan diduga akibat pembukaan kawasan hutan untuk kebun dengan cara membakar," ujar Pasi saat dikonfirmasi, Kamis (1/10/2026).
Terkait sanksi hukum bagi pelaku pembakaran, Pasi menjelaskan bahwa proses penindakan hukum di wilayah kerja KPH Larona sejauh ini tengah berjalan untuk sejumlah titik di luar Tanamalia.
"Ada beberapa lokasi yang sudah saya laporkan ke Gakkum (Penegakan Hukum KLHK), tetapi bukan di Tanamalia. Ada juga kejadian karhutla di Desa Asuli yang sudah masuk proses penyidikan di kepolisian resor," kata dia.
Kendati demikian, Pasi menegaskan aturan pidana kehutanan siap diterapkan jika bukti pembakaran di kawasan hutan Tanamalia telah terverifikasi.
"Iya, masuk ranah penegakan hukum karena lokasinya berada di dalam kawasan hutan. Jika proses penegakan hukum berjalan di kawasan hutan, pihak KPH tentu akan dimintai keterangan sebagai saksi ahli maupun saksi fakta," tuturnya.
Kewaspadaan Daerah Meningkat
Tingginya potensi kebakaran di kawasan Luwu Raya turut memicu atensi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menegaskan mitigasi karhutla selama puncak kemarau menuntut keterpaduan antarsektor dan partisipasi aktif publik.
"Ayo, warga kami tercinta, bersama-sama menjaga lingkungan sekitar serta mencegah kebakaran pada daerah dengan kerawanan tinggi," kata Andi Sudirman.
Ia mengimbau masyarakat untuk menghentikan praktik pembersihan maupun pembukaan lahan dengan cara membakar guna mencegah ancaman degradasi ekosistem serta rusaknya habitat keanekaragaman hayati setempat.
Hingga Kamis (1/10/2026), personel gabungan TNI, Polri, dan instansi kehutanan terus bersiaga serta mengintensifkan penyisiran di sekitar kawasan Tanamalia demi mengantisipasi munculnya titik api baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

