PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Cuaca ekstrem yang ditandai hujan lebat disertai angin kencang melanda hampir seluruh wilayah di Sulawesi Selatan (Sulsel). Hal ini berpotensi menyebabkan bencana alam, khususnya banjir dan tanah longsor di beberapa kabupaten/kota di Sulsel.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulsel Muhammad Firda menyebutkan, berdasarkan hasil analisis pada tahun 2021 yang lalu oleh BPBDSulsel, potensi bahaya banjir dan tanah longsor di Sulsel berada pada kelas sedang dan tinggi.
Baca Juga : Sudah Dua Hari Tak Pulang, Nelayan Wajo Dilaporkan Hilang di Laut
"Potensi bahaya banjir di Sulsel dengan Kelas Sedang terdapat pada 2 kabupaten/kota, yaitu Bantaeng dan Jeneponto, sedangkan 21 kabupaten/kota lainnya berada pada Kelas Tinggi," ujar Firda dalam keterangan resminya kepada portalmedia, Rabu (12/10/2022).
"Sementara potensi bahaya tanah longsor di Sulsel dengan Kelas Sedang terdapat pada 2 kabupaten/kota, yaitu Takalar dan Wajo, sedangkan yang lain berada pada Kelas Tinggi," lanjut Firda.
Menurut Firda, Gubernur Andi Sudirman Sulaiman telah menginstruksikan kepada BPBD dan instansi terkait lainnya untuk lebih siaga dalam menghadapi cuaca ekstrem saat ini.
Antisipasi BPBD
Baca Juga : Pemkot Makassar Tetapkan Status Siaga Cuaca, Munafri Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan
"Kami telah melakukan supporting simulasi penanggulangan bencana pada wilayah yang berpotensi, seperti yang telah dilaksanakan di Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare (simulasi banjir) dan di Malino, Kabupaten Gowa (simulasi tanah longsor)," tambah Firda.
Ia menyebutkan, pihakya juga intens melakukan koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota dalam hal meningkatkan kesiapsiagaan daerah, baik personel, peralatan maupun logistik bencana melalui grup Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB).
"Memang pada musim hujan ini harus diantisipasi bencana alam hydrometeorologi, yaitu bencana yang diakibatkan iklim (banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin puting beliung), untuk dokumen Kajian Risiko Bencana yang mengakomodir peta bahaya, peta kerentanan, dan peta kapasitasnya," jelasnya.
Koordinasi BMKG dan BBWS
Baca Juga : Basarnas Makassar Kerahkan KM Kamajaya Untuk Cari 3 Nelayan yang Hilang di Perairan Pangkep
Pihaknya, menurut Firda juga secara intens berkolaborasi dan bersinergi dengan instansi lintas sektoral, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait prakiraan cuaca serta berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang terkait dengan informasi elevasi sungai di Sulsel setiap jamnya.
Untuk daerah yang dilanda bencana, kata Firda, BPBD Prov. Sulsel telah menyiapkan logistik bencana berupa logistik pangan, perlengkapan keluarga, perlengkapan bayi, dan shelter kit (selimut, bantal, dan tenda terpal).
"Hal tersebut merupakan kebutuhan dasar bagi korban bencana, sehingga jika terjadi bencana maka kami siap mensupport. Kesiapsiagaan Anggota Tim Reaksi Cepat pada BPBD Provinsi Sulsel sebagai personil yang akan membantu evakuasi, membuat laporan kaji cepat dan membawa logistik bencana jika terjadi bencana," ungkapnya.
Baca Juga : Menyeberang Waduk dengan Perahu, Pria 60 Tahun Dinyatakan Hilang
Melalui BPBD kabupaten/kota, pihaknya juga mengedukasi masyarakatnya untuk tetap menjaga lingkungannya, misalnya tidak membuang sampah di saluran air dan kanal pada musim hujan ini, sehingga drainase air dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News