PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Siang itu Jumat , 15 Oktober 2022, tepat pukul 11.00 Wita, suasana di Jalan Barombong kabupaten Gowa cukup memekik. Pengendara di jalan itu berlalu lalang dengan kecepatan kira-kira 40km/jam. Tak ada yang berkesan. Kecuali Jembatan Barombong yang baru-baru ini ramai diperbincangkan.
Namun, saat melewati jembatan, rumor kemacetan yang sempat dihebohkan belum terjadi. Yah, maklum saja, pengendara motor dan mobil di siang hari masih terbilang sedikit. Apalagi, waktu shalat Jumat sudah mendekat.
Sekitar 9 Km dari jembatan, terlihat gerombolan siswa Sekolah Dasar (SD) awut-awutan di pinggir jalan. Layaknya anak-anak, mereka terlihat asyik bermain dan bersenda gurau dengan sesamanya. Saat ditanyai asal sekolahnya oleh tim portalmedia, mereka bersamaan menunjuk ke gerbang yang tertulis SD Inpres Bontoa, yang memang kebetulan menjadi tujuan penulis kali ini.
Baca Juga : Hadapi Gugatan GMTD, PT Hadji Kalla Siapkan Bukti Kuat dan Dua Kantor Hukum
SD Inpres Bontoa menjadi menarik perhatian penulis, sebab terdengar kabar angin jika sekolah yang memiliki ratusan siswa tersebut dulunya sangat berharap sentuh tangan pemerintah dalam merenovasi ruang kelas yang tak layak pakai.
Hingga berpuluh-puluh bulan, bahkan menahun bantuan itu tak kunjung datang. Tapi harapan bantuan dari pemerintah ini, justru terjawab dari uluran tangan nonpemerintah.
Penulis kemudian tertarik untuk mengangkat cerita dari sekolah Inspres Bontoa ini. Memasuki gerbangnya, penulis disambut tawa riang dan gembira serta sahut-sahutan antarsiswa. Tampak ruang kelas yang berjejer membentuk persegi, tak jauh dari sana, seorang laki-laki dengan tinggi kira-kira 168 cm, melempar senyum dari kejauhan. Adalah Muhammad Hasbi, seorang Guru SD Inpres Bontoa yang dikunjungi tim portalmedia.id.
Baca Juga : Komitmen Pilar Tangguh: Aksi Donor Darah GMTD Kumpulkan 130 Kantong Darah
Hasbi sapaannya, lalu membagikan cerita di awal-awal sekolah tersebut. Katanya, di balik keteduhan dan senyum dari para siswa hari ini, dulunya ada keterbatasan dari sikap acuh pemerintah.
"Dulu, ini tidak begini kondisinya. Sekolah ini adalah bangunan lama yang coba kami poles sedikit demi sedikit sampai terlihat layak untuk ditempati belajar mengajar," ujarnya mengawali cerita.
Ia lalu menunjuk dua ruangan paling ujung sebelah kanan setelah pintu gerbang. Katanya, ruangan itu sebelumnya tak digunakan, lantaran sering tergenang air karena atap yang sobek dan hampir-hampir rubuh.
Baca Juga : DPRD Sulsel Telusuri Dugaan Manipulasi GMTD: Saham Pemda Disebut Tergerus
"Makanya setiap musim hujan, akan mengganggu siswa belajar. Air hujan masuk dan menyebabkan genangan di dalam ruangan," katanya.
"Kalau musim kemarau, sama saja tidak bisa digunakan karena terik matahari menembus ruangan. itu juga mengganggu proses belajar mengajar," lanjut Hasbi yang sesekali mengedarkan pandangan ke halaman sekolah.
Kata Hasbi, bangunan renyuk itu sudah tak digunakan sejak empat tahun lalu. Padahal katanya, dua ruang kelas itu sebelumnya sangat efektif digunakan dan membantu meringankan beban sekolah untuk pengelolaan fasilitas.
Baca Juga : GMTD Tegaskan Klaim Kepemilikan Lahan PT Hadji Kalla Tak Berdasar Hukum
Tapi, apa daya tangan tak sampai, begitulah yang dialami sekolah dasar Inpres Bontoa. Walau ingin memanfaatkan fasilitas agar siswa dapat belajar dengan nyaman, ruangan yang rusak juga tak dapat memberikan pembelajaran untuk siswa dengan nyaman dan aman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News