PORTALMEDIA.ID, JAKARTA - International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia kompak memberikan kritikan pada rencana penerbitan mata uang digital oleh bank sentral atau Central Bank Digital Currency (CBDC).
Di antaranya disebut CBDC tak menguntungkan dan adanya potensi masalah yang malah akan timbul jika diterbitkan.
Kritikan itu diarahkan kepada sejumlah bank sentral yang berencana menerbitkan CBDC, yang diketahui jumlahnya mencapai sekitar 100 bank sentral.
Baca Juga : BI Catat Uang Beredar Tembus Rp10.133,1 T pada Desember 2025
Dengan begitu kritikan juga mengarah pada Bank Indonesia yang tengah mengkaji penerbitan mata uang digital atau rupiah digital beberapa waktu ke depan.
IMF juga menilai uang digital tidak menguntungkan bagi masyarakat maupun perbankan. Alasannya, konsep CBDC saat ini tak ada bedanya dengan dompet digital dimiliki bank komersial.
"Dan tidak jelas bahwa CBDC akan memiliki keuntungan," ujar Kepala Divisi Departemen Moneter dan Pasar Modal IMF, Tommaso Manchini Griffoli dalam Synergistic and Inclusive Ecosystem for Accelerated Recovery – Digital Currency, Nusa Dua, Bali, dikutip dari liputan6.com, Selasa (12/7/2022).
Baca Juga : Catatan BI: Transaksi QRIS Tap Tembus Rp28 Miliar di Akhir 2025
Ia menyebut, mengenai konsepnya, CBDC tidak menawarkan suku bunga kepada perbankan maupun masyarakat yang akan menggunakan uang digital bank sentral.
Sementara, untuk saat ini masyarakat mendapatkan keuntungan dari bunga deposito yang disimpan di bank.
Hal senada juga diungkap oleh Bank Dunia. Lead Financial Sector Specialist Payment System Development Group Bank Dunia Harish Natarajan memandang CBDC itu tak akan langsung mendorong inklusi keuangan. Malah, ada poin penting yang jadi catatannya dalam implementasi ke depan.
Baca Juga : SBT Capai 55,74%, Penyaluran Kredit Baru Meningkat
"Saya pikir CBDC dengan sendirinya, tidak menjamin akses, dan tidak serta merta berkontribusi langsung pada inklusi keuangan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News