"Saya pikir ini lebih tentang CBDC sebagai sebuah program, jenis yang dipimpin oleh otoritas publik pasti akan membawa perhatian pada beberapa masalah lama yang bertanggung jawab atas akses dan penggunaan yang lebih rendah," terangnya.
Atas hal itu, ia menyebut akan ada potensi seseorang memberikan pelayanan khusus dengan harga yang dipatok tinggi. Sehingga akan memecah target pelanggan tertentu.
"Jadi, masalah mendasar perlu ditangani sebagai bagian dari peluncuran mulus yang sukses. Dan ini akan mengambil bentuk pengembangan ekosistem umum di samping fitur CBDC khusus dan fitur ekosistem," ujarnya.
Tanggapan BI
Baca Juga : BI Catat Uang Beredar Tembus Rp10.133,1 T pada Desember 2025
Menanggapi kritikan yang juga ditunjukkan kepada bank sentral di negara-negara termasuk Bank Indoneisa, Direktur Departemen Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ryan Rizaldy menilai itu hal yang wajar. Ia mengaku masih akan terus mengikuti perkembangan diskusi yang berlangsung.
“Ketika kita bicara CBDC memang banyak pertanyaan daripada jawaban, tapi itu wajar. Itu mencerminkan kondisi globalnya memang demikian,” katanya.
Ia mengakui rencana sejumlah bank sentral dunia itu memang masih menimbulkan perdebatan. Meski, ia dan pihak lainnya yang terlibat dalam diskusi masih melihat peluang adanya manfaat yang bisa diambil.
Baca Juga : Catatan BI: Transaksi QRIS Tap Tembus Rp28 Miliar di Akhir 2025
“ini masih banyak perdebatan, apakah CBDC itu bisa menjawab, lebih kepada meningkatkan kualitasnya dari inklusi keuangan, yang jelas ini jadi challenge yang harus dijawab oleh bank manapun,” terangnya.
“Kalau Bank Indonesia berfikir, CBDC ini harus menjawab tantagan, perlu memberikan manfaat bagi inklusi keuangan, nanti ada syarat-syarat, ini yang akan dijawab, bagaimana desainnya agar CBDC punya karakter dalam mendorong inklusi keuangan,” tambah Ryan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News