0%
Rabu, 07 Desember 2022 13:07

Pementasan Kala Teater Ditutup dengan Diskusi yang Menghadirkan Aan Mansyur

Penulis : Firda
Editor : Azis Kuba
 Diskusi "Yang tidak terhubung : warga dan kota" bertempat di Teater Arena Gedung Kesenian Societeit De Harmonie, Kota Makassar. Selasa (06/12/2022) .  (Firda/portalmedia)
Diskusi "Yang tidak terhubung : warga dan kota" bertempat di Teater Arena Gedung Kesenian Societeit De Harmonie, Kota Makassar. Selasa (06/12/2022) . (Firda/portalmedia)

Diskusi menghadirjan penulis Naskah dan Sutradara "Proyek Kota dalam Teater", Shinta Febriany, penyair Aan Mansyur dan aktivis dari Komite Pekerja Masyarakat Miskin (KPRM) Kota Makassar, M. Nawir.

PORTALMEDIA.ID -- Kala Teater menggelar diskusi usai pementasan di Teater Arena Gedung Kesenian Societeit De Harmonie, Kota Makassar, Selasa (6/12/2022) malam sebagai penutup dari Proyek Kota dalam Teater bertajuk "yang tidak terhubung : warga dan kota"

Diskusi itu menghadirjan Penulis Naskah dan Sutradara "Proyek Kota dalam Teater", Shinta Febriany, penyair Aan Mansyur dan aktivis dari Komite Pekerja Masyarakat Miskin (KPRM) Kota Makassar, M. Nawir.

Nawir mengatakan pertunjukan ini menjadi khas Kala Teater dengan isu perkembangan kota, dinamika kota dan suara-suara warga kota.

Baca Juga : Pementasan Postpartum: Fokus Perkenalkan Isu Depresi Setelah Melahirkan

"Menurut saya ini satu moment dimana kita bisa mengapresiasi kembali diri kita sebetulnya sebagai warga kota," ujar Nawir saat ditemui Portalmedia.ID setelah diskusi berakhir. Selasa (06/12/2022).

Alumni Fakultas Sastra, jurusan Sastra Indonesia, Universitas Hasanuddin ini menjelaskan pertunjukkan yang disajikan di panggung ialah masalah kita sendiri dan bagaimana mengevaluasi kembali supaya bisa direfleksi.

"Paling tidak kita sendiri tidak menjadi bagian dari kriminalitias, narkoba, pengerusakan infrakstuktur, penyebab banjir, dan sampah. itu bagian terpenting untuk saya." ujarnya.

Baca Juga : Teater Riset dari Kala Teater; Kritik Warga Kota Makassar Terperangkap Dalam Oven Kompor, Pemerintah Tutup Kuping

Laki-laki berdarah Bone ini juga mengatakan seni sebagai media artikulasi bagi aspirasi kepentingan kota yang lebih umum.

"Dalam hal ini kala teater secara teoritik sudah kenalah , dia mengartikulasikan kepentingan warga dalam pertunjukan," katanya.

"Cuman memang kalau kita bisa bukan cuman mengartikulasikan aspirasi tapi juga menghadirkan pemilik aspirasi itu sebagai bagian dari kolaborasi," tandasnya.

Baca Juga : Kembali Pentas di Gedung Kesenian Makassar, Kala Teater Angkat Isu Warga Kota

Pementasan Kala Teater ini bertajuk "Proyek Kota dalam Teater" menyajikan tiga babak pertunjukan yang merupakan hasil riset, yakni "Perangkap Kata-kata", "Di Seberang Kekacauan", dan "Bunyi Warga" dalam durasi hingga 120 menit lebih.

Pertunjukan ini menampilkan lima pemain yang mengartikulasikan keresahan, kritikan dan cibiran dari warga Kota Makassar sebagai responden riset. Seperti cibiran Makassar sebagai Kota Dunia yang hanya slogan, banjir yang tak kunjung hilang, kemacetan yang tak berkesudahan, proyek galian atau perbaikan jalan di yang membahayakan pengendara, parkir liar, trotoar yang difungsikan untuk berjualan hingga tak nyaman dipakai pejalan kaki.

Proyek stadion kebanggaan warga kota Makassar, Stadion Mattoangging yang tak kunjung dibangun setelah diratakan tanah pun menjadi bahan para aktor menceritakan secara monolog kepada penonton yang hadir.

Teater yang berdurasi 120 menit lebih ini ditampilkan juga data hasil riset dalam proyektor dan audio suara warga mengenai permintaannya bila diberi kesempatan bertemu dengan pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar
Populer