PORTALMEDIA.ID, JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebab musim kemarau berbeda-beda di wilayah Indonesia. Mengingat, ada di beberapa wilayah yang sudah memasuki musim kemarau, namun di beberapa wilayah lain masih musim penghujan.
"Kenapa kok berbeda musimnya, di Bulan Februari kok ada musim kemarau. Jadi secara umum pola hujan di Indonesia ini memang berbeda dan secara umumnya dikelompokkan dalam tiga kelompok besar," kata Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dodo Gunawan dalam keterangan pers secara virtual.
"Artinya hujan itu, pola bulanan. Jumlah curah hujan secara rata-rata klimatologi," ujarnya.
Baca Juga : Pemkot Makassar Tetapkan Status Siaga Cuaca, Munafri Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Menurutnya, di beberapa wilayah seperti di Jawa, Sulawesi Selatan, NTB, dan NTT itu berada di wilayah monsun Australia-Asia. Di mana grafiknya Januari sampai Desember, dikenal sebagai pola hujan monsun.
"Karena kita berada di wilayah monsunal, monsun Australia-Asia itu yang paling banyak monsun tersebut. Jadi ada di selatan ekuator, misalnya di Jawa, di Sulawesi Selatan, sampai ke NTB, NTT," jelasnya.
Di sisi lain, Dodo menjelaskan, di sekitar ekuator ada pola lain yang sejalan dengan pergerakan semu matahari. Hal inilah yang mempengaruhi pola hujan, salah satunya di wilayah Riau.
Baca Juga : BMKG Rilis Prospek Cuaca 19-25 Desember 2025, Bibit Siklon Picu Hujan Lebat dan Angin Kencang
"Nah, di sekitar ekuator kita mempunyai pola yang lain hal yaitu dua pola. Hal ini sebenarnya sejalan dengan pergerakan semu matahari dari selatan ke utara kemudian kembali ke selatan," paparnya.
Pada saat melintas ekuator itu pola hujan wilayah-wilayah tersebut yang termasuk Riau, itu mempunyai pola. Artinya ada musim kemarau yang lebih pendek yaitu di bulan Februari, Maret.
"Kemudian naik kembali dan setelah itu turunnya pada sekitar Mei. Menyamai dengan tempat-tempat yang lain," ucapnya.
Baca Juga : BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem hingga Awal 2026
Dodo mengatakan, di sekitar Maluku ada pola hujan terbalik. Sehingga jika di Pulau Jawa, maka polanya akan menyerupai huruf U, namun ini justru sebaliknya.
"Musim kemaraunya terbalik di bulan Desember, Januari, Februari. Kita dengan topografi yang berbeda juga dapat membentuk pola iklim yang berbeda juga," imbuhnya.
"Misalnya, salah satu contoh yang sangat terlihat jelas itu di daerah Palu, di Lembah Palu. Itu polanya membentuk lekukan seperti U, tapi kecil sekali curah hujannya," sambung Dodo. (*)
Baca Juga : Komisi V DPR Dorong Kesiapsiagaan Bencana Jadi Materi Wajib di Sekolah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News