"Kalau tentang itu, tidak semua yang bagus di Jakarta bisa diterapkan di Bandung. Karena misalnya ganjil genap di Jakarta itu diterapkan di Bandung malah akan sulit. Karena selama ini orang kalau gage itu menghindari ya, tujuan gage agar orang yang punya mobil tanggal ganjil saat tanggal genap dia naik angkutan umum, tapi ini gak terjadi kan. Jadi orang yang punya genap ditanggal ganjil dia nyari alternatif lain, seperti itu," jelasnya.
Selain itu juga, rute jalan di Bandung tidak sebanyak seperti di Jakarta.
"Nah di Bandung, tidak ada rute-rute itu. Gak banyak seperti Jakarta, akibatnya apa? Jalan-jalan kecil di Bandung jadi macet. Jadi gage itu tidak selalu efektif untuk diterapkan di Bandung," terangnya.
Baca Juga : Pertama Selama 60 Tahun, Populasi China Menyusut
Selain itu, menurut Sony Pemkot juga tidak dapat membatasi jumlah kendaraan milik warga Kota Bandung.
"Pembatasan jumlah kendaraan juga tidak bisa. Karena, gak mungkin Dishub Kota Bandung melarang orang beli mobil, naik mobil, menaikan pajak juga gak boleh. Harus ada ketentuan dari Kementerian keuangan itu tidak mudah," tuturnya.
Lalu, solusi apa yang harus dilakukan Pemkot Bandung untuk mengatasi kemacetan di Kota Bandung?
Baca Juga : Belum Beroperasi, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Sudah Kecelakaan: Akan Diinvestigasi
"Yang bisa dimanfaatkan Kota Bandung adalah ya mendorong, mengedukasi masyarakat beralih ke angkutan umum," ujarnya.
Selain itu, keberadaan transportasi bisa menjadi salah satu solusi, Pemkot Bandung harus terus dorong masyarakat agar gunakan kendaraan umum. Namun, penerapannya membutuhkan waktu dan harus terintegrasi dengan baik.
"Angkutan umum itu kalau kita tata dampaknya gak bisa sekarang kita tata, tahun depan beres. Angkutan umum itu suatu proses perubahan perilaku, proses masalah pelayanan seperti itu. Dampaknya gini, orang yang biasanya naik mobil, tiba-tiba jadi naik angkutan umum, berarti kan dia harus mau jalan, mau nunggu, lebih banyak sabar. Itu gak mudah proses budaya itu. Nah biasanya dampaknya baru kerasa 4-5 tahun ke depan," tuturnya.
"Nah untuk mencapai itu harus ada konsistensi penataan. Bandung udah punya semua. Ada bus Damri, TMB, Trans Metro Pasundan, Bus Wisata, punya sepeda wisata atau Boseh. Itu udah ada semua, tinggal diintegrasi, ditingkatkan pelayanannya dan diedukasi masyarakatnya agar sering menggunakan itu," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

