0%
Minggu, 19 Maret 2023 14:00

Akibat Perang Rusia Ukraina, Pupuk NPK Mahal dan Langka

Editor : Redaksi
Ilustrasi
Ilustrasi

Indonesia hanya bisa memproduksi 26 persen saja atau sekitar 3,5 juta ton.

PORTALMEDIA.ID, JAKARTA - Pupuk NPK di Indonesia mengalami kelangkaan dalam setahun terakhir. Kalaupun ada, harganya terbilang mahal.

SVP Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia, Wijaya Laksana, mengatakan, kenaikan harga dan kelangkaan pupuk utama jenis NPK telah terjadi dalam setahun terakhir. Kenaikannya akibat perang Rusia dan Ukraina.

"Pupuk NPK unik, harganya dalam setahun terakhir mahal, semua jenis pupuk lagi mahal, terutama NPK, dan kenapa harga NPK mahal? Karena dampak perang Rusia-Ukraina, sekitar 30-an persen kebutuhan dari sana," ungkap Wijaya, dikutip Minggu, 19 Maret 2023.

Baca Juga : LONTARA+: Membedah DNA Birokrasi Makassar, Dari 358 Aplikasi Menuju Pelayanan Super Cepat

Di Indonesia sendiri, produksi NPK masih minim yakni 3,5 juta ton dibandingkan kebutuhan nasional 8,6 juta ton. Sebagian besar diproduksi oleh Pupuk Indonesia Group. Sisa 6,3 juta ton atau 74 persen harus diimpor.

"Minimnya produksi NPK dalam negeri karena Indonesia kekurangan fosfor dan kalium jadi tidak bisa produksi sendiri. Sedangkan bahan baku urea yakni nitrogen di dalam negeri memiliki sumber daya yang cukup melimpah," jelasnya.

Di Indonesia fosfor kalium kecil, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan nasional. Impornya Fosfor mayoritas negara Timur Tengah san Cina. Sedangkan Kalium yang jenis pupuknya KCL potasium 30 persen kebutuhan dunia dari Rusia dan Belarusia.

Baca Juga : Sejak Diluncurkan, LONTARA+ Tampung 2.106 Aduan Warga Makassar

"Selama perang 1/3 kebutuhan dunia hilang, otomatis harga gila-gilaan," kata Wijaya.

Pupuk Indonesia juga mencari sumber bahan baku lain untuk memenuhi kebutuhan Fosfor dan Kalium. Yakni dengan bekerja sama dengan sejumlah perusahaan selain dari Rusia, yakni Laos, Mesir hingga Kanada.

"KCL impor 800 ribu ton, Fosfor 400 ribu ton dari Timur Tengah seperti Jordania, Mesir. Kebutuhan bahan baku sampai akhir tahun safe relatif aman gak terpengaruh perang itu, hanya harga tinggi," ungkap Wijaya.

Baca Juga : Petakan Wilayah Rawan, Munafri Gandeng TNI–Polri Amankan Pemilihan RT/RW

Sebelumnya, Presiden Jokowi juga mengungkap jika impor bahan baku pupuk di Indonesia terganggu akibat perang Rusia dan Ukraina. Hal ini tidak hanya menjadi masalah di Indonesia, tetapi hampir di semua negara.

"Kita semua harus tahu juga, bahwa tempat bahan baku maupun produksi pupuk ini adalah Rusia dan Ukraina yang sedang berperang. Ini problem yang dihadapi semua negara di dunia," kata Jokowi.

Presiden Jokowi juga mengungkap masalah lain pupuk Indonesia. Jenis NPK khususnya, dijual dalam harga tinggi dan stoknya langka. Sementara, kebutuhan pupuk nasional sebanyak 13 juta ton.

Baca Juga : Makassar Unjuk Gigi di TOP Digital Awards, LONTARA+ Jadi Bukti Nyata Transformasi Digital

Dari jumlah itu, Indonesia hanya bisa memproduksi 26 persen saja atau sekitar 3,5 juta ton. Beberapa waktu lalu, terdapat tambahan dari Pupuk Iskandar Muda 570 ribu ton dan impor pupuk sebanyak 6,3 juta ton atau 74 persen. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar