PFA saat itu menjelaskan bahwa mereka mencabut tuntutan karena upaya meyakinkan federasi negara lain untuk mendukung FIFA "menendang" Israel tidak terwujud. Banyak negara yang seakan-akan membela Israel.
"Saya memutuskan membatalkan penangguhan (untuk Israel), namun bukan berarti saya menyerah," ucap Jibril Rajoub.
Baca Juga : Lepas dari Sanksi FIFA, PSM Segera Belanja Pemain Baru?
"Puluhan presiden federasi dari Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara dan Eropa mengatakan kepada saya bahwa mereka tak ingin ada penangguhan federasi (Israel)." imbuhnya.
2. Sewenang-wenang
Setahun setelahnya tepatnya pada 2016, PFA kembali mengajukan protes kepada FIFA karena ada enam klub Israel yang berlatih di Tepi Barat, wilayah milik Palestina.
Namun, FIFA menolak menjatuhkan hukuman untuk Israel dengan alasan sengketa wilayah bukan termasuk urusan FIFA.
Baca Juga : Spanyol di Puncak, Indonesia Masih Kalah dari Malaysia
Presiden FIFA, Gianni Infantino lewat pernyataan resminya menyebut ereka menahan diri menjatuhkan sanksi karena sengketa wilayah merupakan ranah hukum internasional.
"FIFA memutuskan menahan diri untuk menjatuhkan sanksi atau tindakan lain baik itu kepada FA Israel maupun FA Palestina," ucap Infantino.
"Wilayah yang disengketakan menjadi perhatian otoritas hukum publik internasional dan FIFA harus tetap netral," imbuhnya.
3. Serangan Militer Israel
Baca Juga : Montiel Raih FIFA Puskas Award 2025, Kalahkan Gol Indah Ridho
Baru saja pada 30 Maret 2023, tepatnya di final Piala Liga Israel antara Balata FC melawan Jabal Al Mukaber.
Entah apa yang diinginkan, tentara Israel secara tiba-tiba menembakkan gas air mata usai menyerbu stadion hingga lapangan pertandingan.
Banyak penonton, termasuk anak-anak dan wanita menjadi korban aksi keji tentara Israel itu, FIFA pun diam meski mengetahui hal tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News