Trip kedua; berada di Simpin, Desa Lunjen dan rute berakhir di Kelurahan Balla, Kecamatan Baraka. Jaraknya sekitar 7 kilometer dan lama pengarungan dengan perahu karet sekira 3 jam.
Rute ini memiliki grade jeram II ke III. Sangat cocok untuk pengarungan pemula, cocok bersenang-senang bersama keluarga.
Baca Juga : Pj Gubernur Prof Zudan Lantik Marwan Mansyur Jadi Pj Bupati Enrekang
Trip ketiga, dengan rute start di Saruran dan berhenti di depan tebing Mandu atau tebing Tontonan dalam wilayah administrasi Kecamatan Anggeraja. Jarak tembuhya 2 kilometer dan pengarungan hingga 2 jam.
Rute ini juga masuk dalam grade IV ke V hampir sama dengan trip pertama yang membutuhkan panduan dari operator terlatih.
Ingin Jadikan Kabupaten Enrekang Sebagai Pusat Wisata Arung Jeram di Sulsel
Pembuatan jalur trip wisata Rafting ini, kata Darwin, untuk menjadikan Kabupaten Enrekang sebagai pusat wisata arung jeram di Sulsel.
Sejurus dengan misi tersebut, tersirat tujuan lain, yakni dengan ramainya kegiatan pengarungan sungai diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran warga untuk tidak membuang limbah dan sampah ke sungai.
Baca Juga : CEO Bali Hastie Indomalaya Pulang Kampung ke Enrekang, Hibahkan Ambulans Gratis
“Lambat laun pencemaran sungai bisa diminimalisir. Dengan ramainya aktifitas wisata arung jeram diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran warga untuk tidak membuang sampah ke sungai, ” tegas pria yang berprofesi pendamping lokal desa atau PLD Kementerian Desa, di Kecamatan Buntu Batu, Enrekang ini.
Mata Allo Rafting Rencana Penanaman Pohon di Bantaran Sungai
Selain untuk menghidupkan aspek wisata, Palm Indonesia juga akan menjaga lingkungan pinggir dan sekitar sungai. Karena itu, kata Darwin, akan lakukan penanaman pohon di pinggir sungai sepanjang rute yang dilalui kegiatan Rafting ini.
Hanya saja, kata dia, pihaknya akan melakukan identifikasi pemilik lahan yang berada di bantaran sungai untuk minta izin penanaman.
Baca Juga : Meriahkan HUT RI 78, Panwaslu Malua Enrekang Gelar Edukasi Pemilu
“Bahkan kami sudah siapkan bibit pohon yang nantinya akan di tanam disekitar bantaran sungai, ” ujarnya.
Darwin membeberkan masalah sampah sungai menjadi bagian kesulitan menghidupkan sarana wisata kabupaten penghasil kopi terbaik ini.
“Kesulitannya, sungai masih banyak sampahnya, ” keluhnya. Namun dia tetap optimis dengan kegiatan tersebut ekosistem sungai tetap terjaga.
Baca Juga : Hadiri Lomba Mobile Fox Hunting di Enrekang, IAS: Semoga Lomba Ini Bisa Menebar Kebaikan
“Saya optimis, ekosistem sungai bisa terjaga dengan adanya aktivitas wisata arung jeram, ” ucapnya.
Darwin juga menjelaskan bila rute-rute jeram yang disebutkan tadi belum dikomersialkan. Menurutnya saat ini hanya orang tertentu atau undangan yang bisa menjajal berbagai trip.

Kelompok pengembangan wisata arung jeram Mata Allo atau Mata Allo Rafting saat melakukan pengarungan di Sungai Mata Allo, Enrekang. (foto: Darwin/IST)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News