Pada fase erupsi atau fase paling infeksius, terjadinya ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Lesi muncul secara bertahap, mulai dari bintik merah seperti cacar makulopapula, lepuh berisi cairan bening (blister), lepuh berisi nanah (pustule), yang mengeras atau keropeng lalu rontok.
"Itu (cacar monyet), tidak berat dan dia sembuh sendiri, setelah sampai di 28 hari setelah masa inkubasi selesai dia akan mengering dan mengelupas. Dan dia kembali sehat lagi, cuma masalahnya kalau dia usia lanjut dan punya komorbid harus hati-hati," ujar Syahril.
Baca Juga : Makassar Terima Penghargaan Kota Sehat dari WHO
Syahril pun meminta, bagi mereka yang bergejala terutama pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) perlu melakukan pemeriksaan yang menyeluruh guna memastikan penyebabnya.
"Iya (skiriningnya jika ada gejala) sama kalau ada riwayat dia dari Kongo ternyata dia ada panas, ada sakit kepala, kemudian ada benjolan harus diwaspadai. Dan itu belum menular dia, itu namanya masa invasi kemudian masa erupsi itu yang menular," kata Syahril.
Dalam mendeteksi dini cacar monyet, pemerintah juga telah menyiapkan dua laboratorium di antaranya Laboratorium Pusat Studi Satwa Primata Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB), serta Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof Sri Oemiyati, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Jakarta.
Baca Juga : Trump Resmi Tarik AS dari WHO dan Paris Agreement di Hari Pertama Menjabat
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk disiplin protokol kesehatan dengan menghindari kerumunan, mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, serta melakukan perilaku hidup bersih dan sehat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News