PORTALMEDIA. ID, MAKASSAR- Keberadaan anak jalanan(Anjal), pengemis dan gepeng masih menjadi pemandangan di wilayah perkotaan, seperti yang terjadi di Kota Makassar. Mereka berkeliaran di sudut-sudut kota, dan memenuhi hampir semua titik lampu merah.
Kondisi ini menjadikan Makassar terlihat kian kumuh di tengah pertumbuhan ekonomi yang melaju, lebih tinggi dari nasional secara umum. "Pertumbuhan ekonomi tidak disertai dengan peningkatan kesejahteraan warga. Kemiskinan dan penataan kota harusnya jadi prioritas pemerintah, " kata anggota Komisi D Bidang Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) DRPD Makassar, Yenni Rahman, belum lama ini.
Alhasil, gelandang dan anak jalanan entah itu warga asli Makassar atau pun orang-orang yang didatangkan dari luar makin mudah dijumpai di hampir sudut kota. "Ini harus jadi penanganan serius oleh pemerintah terkait keberadaan pengemis, anjal, gelandang dan gepeng, " katanya .
Baca Juga : Lewat Forum Indonesia on the Move, Munafri Siapkan Sistem Transportasi Terpadu dan Rendah Emisi
Menurutnya, sebuah kota baru bisa dikatakan maju dan berkembang juga ditandai dengan kebersihan dan penataan kota yang jauh dari kesan kumuh. "Kita lihat kota-kota besar di belahan negara lain, Rata-rata bersih tidak ada pengemis dan daerahnya tertata, tidak ada rumah-rumah kolom jembatan dan di trotoar, " Jelas anggota Fraksi PKS itu.
Wakil Wali Kota Makassar Fatmawati Rusdi saat memimpin razia anak jalanan gelandangan, dan pengemis (anjal-gepeng) dengan menyisir jalan protokol di Kota Makassar, Rabu (27/7) lalu mengatakan, pihak pemerintah kota(Pemkot) menargetkan Makassar akan menjadi zero anjal dan gepeng.
"Kita mau zero anjal-gepeng di Kota Makassar, jadi ini (aktivitas mereka) harus diminimalisir,” tegas Fatma. Olehnya penjaringan anak jalanan dimulai dengan menyisir Jalan Ahmad Yani, Jenderal Sudirman, dr Ratulangi, Andi Djemma, Veteran Selatan, Veteran Utara, akan rutin dilakukan.
Baca Juga : Menjelang Setahun Kepemimpinan MULIA, Makassar Raih UHC Award 2026
Selain di wilayah itu, Fatma juga menyebut daerah lain di Makassar dimana pengemis, anjal dan gepeng sering berkeliaran seperti, Jalan Masjid Raya, Urip Sumoharjo, Fly Over, AP Pettarani, Letjen Hertasning, Adiyaksa, Boulevard, dan sepanjang Jalan Pengayoman.
Fatmawati menegaskan razia ini dilakukan sebagai upaya pemerintah kota agar terbebas dari anjal-gepeng. Apalagi baru-baru ini, Makassar meraih penghargaan Kota Layak Anak (KLA), sehingga tidak elok jika di tengah penghargaan itu Makassar masih tampak kumuh.
Dikatakannya mereka yang terjaring selanjutnya dibawa ke Rumah Perlindungan dan Trauma Center (RPTC) milik Dinas Sosial di Jalan Abdullah Dg Sirua untuk diassesment.
Baca Juga : Kunjungi Kantor Kemenlu, Wali Kota Munafri Perkuat Diplomasi Pariwisata dan Maritim Lewat Kolaborasi
“Di sini kita assesment lalu kita karantina dan kita juga berikan pendampingan. Di sini juga terlibat DPPPA untuk pendampingan kepada anak-anak. Intinya keluar dari sini mereka tidak lagi turun ke jalan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Makassar Aulia Arsyad menyebutkan ada 12 orang anjal-gepeng yang terjaring razia. Rinciannya, tujuh anak dan lima orang dewasa.“Mereka kita karantina selama tiga hari di sini,” singkat Aulia.
Pihaknya juga melakukan pendataan, khususnya bagi anak-anak. Hal ini juga sekaitan dengan program Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto semua anak harus sekolah.
Baca Juga : Pengamat Nilai Ketegasan Munafri Tertibkan Parkir Liar hingga PKL Sangat Tepat Menata Makassar
“Jadi anak-anak yang putus sekolah kita data dan datanya kita serahkan ke Dinas Pendidikan untuk difasilitasi agar bisa tetap bersekolah,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News