0%
Jumat, 28 Juli 2023 11:58

Tahun Ini, PT Vale Target Produksi Nikel 70.000 Ton

Editor : Agung
Tahun Ini, PT Vale Target Produksi Nikel 70.000 Ton
ist

Berdasarkan catatan Bisnis, target produksi INCO70.000 ton pada 2023 itu lebih tinggi dari realisasi 60.090 ton pada 2022 dan 65.388 ton pada 2021.

PORTALMEDIA.ID - Emiten pertambangan nikel PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menargetkan produksi nikel dalam matte mencapai 70.000 ton pada 2023.

Berdasarkan catatan Bisnis, target produksi INCO70.000 ton pada 2023 itu lebih tinggi dari realisasi 60.090 ton pada 2022 dan 65.388 ton pada 2021.

Febriany Eddy, CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia, mengatakan INCO berhasil mempertahankan laba positif berkat kelancaran pelaksanaan operasi. Ke depannya, INCO akan terus berupaya untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya.

Baca Juga : Produksi Saprolit Bahodopi Melejit 90 Persen, PT Vale Tatap Optimisme di 2026

"Pada triwulan ini, PT Vale berhasil menurunkan biaya kas per unit produksi lebih jauh lagi, melampaui level yang pernah dicapai pada triwulan sebelumnya," jelasnya dalam siaran pers, dikutip Jumat (28/7/2023).

Pada semester I/2023, INCO memproduksi nikel dalam matte 33.691 ton, naik dari sebelumnya 26.394 ton pada semester I/2022. Penjualan nikel dalam matte juga naik menjadi 33.221 ton dari sebelumnya 27.013 ton. Namun, harga realisasi jual rata-rata (ASP) turun menjadi US$19.836 per ton per Juni 2023, dibandingkan US$20.899 per ton per Juni 2022.

"Produksi INCO masih sejalan dengan target produksi tahunan 70.000 ton pada 2023," imbuh Febriany.

Baca Juga : Kinerja Solid 2025: Laba Bersih PT Vale Melonjak 32 Persen di Tengah Tantangan Pasar

Sementara itu, tingginya beban disebabkan oleh konsumsi bahan bakar dan harga diesel yang lebih tinggi. Konsumsi High Sulphur Fuel Oil (HSFO) mencapai 921.408 barel pada semester I/2023, naik dari sebelumnya 445.518 barel.

Harga rata-rata HSFO turun menjadi US$78,66 per barel dari US$80,63 per barel pada semester I/2022. Sejak April 2023, INCO memutuskan untuk mengalihkan sumber energi untuk burner dari HSFO ke batu bara, didorong oleh penurunan harga batu bara. Pada semester I/2023, volume penggunaan batu bara mencapai 142.535 ton dengan harga US$383,46 per ton, berbanding 170.955 ton dan harga US$317,97 per ton pada semester I/2022.

Menurut Febriany, Vale tetap berkomitmen untuk selalu berupaya mengurangi biaya, termasuk penyesuaian komponen lainnya sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam mengelola biaya.

Baca Juga : Dukung Asta Cita Presiden dan SDGs Ketahanan Pangan, PT Vale Panen Bersama Demplot Padi Berkelanjutan di Kolaka

Selain melakukan pengendalian biaya, Vale mengambil sikap hati-hati dalam mengelola arus kasnya untuk mengantisipasi kondisi harga nikel yang tidak menguntungkan.

Vale mengeluarkan belanja modal sekitar US$60,8 juta pada kuartal II/2023, menandai peningkatan signifikan sekitar 36 persen bila dibandingkan dengan belanja modal pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi ekspansi, INCO menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk 2023 sebesar US$110 juta, termasuk untuk proyek di Pomalaa dan Bahodopi, serta pengembangan tambang baru dan injeksi ekuitas ke perusahaan patungan.

Baca Juga : Gempuran Tekanan Global Tak Surutkan Langkah, PT Vale Sukses Cetak Penjualan Fantastis di Awal 2026

Vale Indonesia juga tengah menggarap proyek smelter nikel yang terintegrasi dengan PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia.

Di Pomalaa, INCO, Huayou, dan Ford Motor Co. bakal membangun pabrik pengolahan dengan teknologi high pressure acid leaching (HPAL) dengan target kapasitas 120.000 ton nikel dalam mixed hydroxide precipitate (MSP) per tahun.

Proyek penghiliran INCO yang juga sedang bergulir ialah pembangunan pabrik dengan teknologi rotary kiln and electric furnance (RKEF) berkapasitas 73.000 ton nikel dalam feronikel.

Baca Juga : Pulihkan Ekosistem Pascatambang, PT Vale Indonesia Dorong Keberlanjutan di Tanah Sorowako

Proyek itu merupakan kongsi INCO dengan Tisco dan Xinhai yang dibangun di kawasan industri di Sambalagi, Sulawesi Selatan. Tak berhenti di situ, INCO menggandeng Huayou untuk membangun proyek Sorowako Limonite untuk memanfaatkan bijih limonit di Blok Sorowako.

Nilai investasi tambang, pabrik, dan fasilitas lainnya diperkirakan senilai US$1,8 miliar dengan teknologi HPAL dan kapasitas tahunan 60.000 ton nikel dalam MSP.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar
Populer