Saat mendapat materi dari instruktur teater Djamal Dilaga, Afra cukup memperhatikan namun harus selalu diarahkan. Seperti saat diberi tugas untuk mengungkapkan apa kendala yang dialaminya dan harapannya nanti. Afra justru beranggapan tidak ada.
"Saat sekarang saya tidak ada masalah dan kendala. Saya tidak punya persoalan, bilangnya begitu. Jadi saya tanya apa yang membuatmu kesulitan kah? pasti ada kesulitanmu dan ada hal yang kau tidak bisa lakukan. Akhirnya dia bilang saya tidak bisa berhitung. Bagaimana itu Bu? " kisah Ibunya saat menanyakan tugas usai pelatihan.
Afra akhirnya menyadari dengan kondisinya dan mulailah dia dituntun untuk menuliskan keresahannya di secarik kertas. "Jadi apa yang harus saya katakan Bu? bilangnya waktu itu. Dia memang tidak bisa merangkai kata-kata. Jadi saya suruh dia menulis dan mengarahkan harapannya, "
Baca Juga : Gandeng Yayasan Kota Kita, Pemkot Makassar Rumuskan Kebijakan Aksesibilitas bagi Penyandang Disabilitas
Analogi yang ditangkap Afra dalam berteater itu seperti tontonan sinetron dan persepsi itu pula memudahkan Yulianti untuk menjelaskan lagi tentang pertunjukan teater.
Dia pun selalu memotivasi anaknya agar selalu semangat mengikuti semua pelatihan. "Saya selalu semangati. Anaknya bu Yanti harus kuat, anaknya Bu Yanti harus Pintar, " ujarnya.
Inklusifitas dalam Seni Teater
Syahrini Andriyani, ketua panitia Workshop Teater Disabilitas ini menceritakan alasan menggelar workshop Teater untuk Penyandang Disabilitas sebagai program dana Indonesiana Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Nasional, kategori pendayagunaan ruang publik yang menyasar penerima dampak penyandang Disabilitas.
"Karena ini inklusi ya. Saya ingin mereka juga ada distribusi ilmu (teater) dan lebih merata. Karena saya tau di sekolah-sekolah di beberapa tempat juga terbatas sekali pendidikan tentang teater. Jadi inilah mungkin moment tepat untuk belajar bersama dan tentu saja mereka mau melatih bersama kami, " kata Rini, sapaan akrab Syahrini Andriyani.
Baca Juga : KALLA Mulai Implementasikan ESG Pilar Sosial, Terima 7 Peserta Magang Disabilitas
Rini mengatakan melatih anak-anak disabilitas untuk berteater adalah pengalaman pertamanya, meski berinteraksi dengan orang yang berkebutuhan khusus itu sangat sering, apalagi mereka penggiat organisasi disabilitas. Begitu juga dengan para peserta workshop yang rata-rata siswa Sekolah Menangah Atas (SMA) juga kali pertama mendapat bimbingan bermain taeter dari aktor dan aktris berpengalaman di atas panggung pementasan seni.
Syahrini Andriyani (pakai topi), Ketua Panitia Workshop dan sutradara Teater Disabilitas saat memberi pengearahan kepada peserta workshop di Gedung Kesenian Sulawesi Selatan, Societet de Harmonie. (Foto: IST)
"Menyutradarai sendiri teman-teman disabilitas ini yang pertama kali. Ini adalah momen yang sangat berkesan pasti. Mereka juga ternyata juga pertama kali ikut (latihan teater), " kata Direktur Eksekutif Kala Teater ini.
Hingga hari keempat workshop, Rini mengaku belum menemukan kendala berarti dalam transfer ilmu. Namun ia juga perlu adaptasi lebih dulu dan tentu berbeda dalam melatih orang yang bekebutuhan khusus dengan non disabilitas.
Baca Juga : Pemkot Makassar Fasilitasi Pelatihan untuk 22 Difabel, 9 Perusahaan Siap Rekrut
"Harus lebih tenang kita. karena mereka juga dari disabitas yang berbeda-beda. Latar belakang disabilitas ini juga berbeda-beda perlu adaptasi ruang, " kata Rini yang kesehariannya sebagai Human Resources di PT. Trans Kalla Makassar.
Menurutnya gaya dan waktu yang digunakan dalam melatih teater kepada non disabilitas bisa cepat dan bisa langsung melakonkan naskah teater yang sudah jadi. Sementara anak-anak disabilitas harus membangun suasana ceria dan bahagia dalam pelatihan. Terlebih salah satu peserta memiliki sensitifas tinggi dalam berinterkasi baik sesama peserta dan narasumber.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
