Donat Tuli, Lebih dari Makna tak Mendengar: Pemberdayaan hingga Bangkitkan Kepercayaan Diri Teman Difabel
Cafe Malla, sebuah cafe di Jalan Sunu Kota Makassar, memperkenalkan jajanan bernama Donat Tuli. Bukan tanpa sebab nama ini diambil, setelah memasukinya mulai dari pramusaji, pembuat donat, hingga owner dari cafe ini adalah penyandang disabilitas.
PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Untuk sebagian orang, berkomunikasi verbal adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Mereka dengan gampang menggunakan mulut untuk berbicara dan telinga untuk mendengar percakapan lawan bicara. Namun, tidak bagi mereka yang difabel.
Untuk berkomunikasi dengan banyak orang, teman difabel harus menggunakan bahasa isyarat atau nonverbal dalam berkomunikasi. Di Jalan Sunu Kota Makassar misalnya, ada sebuah cafe yang menjajakan donat yang diperkenalkan dengan nama Donat Tuli, yang telah berdiri selama 12 tahun.
Bukan tanpa sebab jajanan manis ini diberi nama Donat Tuli. Memasuki cafe, pembeli akan tahu kenapa namanya Donat Tuli yang secara gamblang pasti bermakna tak mendengar. Di sana, mulai dari pramusaji atau pelayan hingga pembuat donat penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara.
Baca Juga : Pemkot Makassar Fasilitasi Pelatihan untuk 22 Difabel, 9 Perusahaan Siap Rekrut
Cafe ini seperti menjadi jawaban dari kegelisahan sebagian difabel yang harus mengantre menjadi bagian dari kuota 2% milik pemerintah untuk bekerja secara layak.
Berdayakan Penyandang Difabel
Selasa, 26 Desember 2022. Cuaca di Kota Makassar sedikit cerah. Matahari sedang bersembunyi di balik awan. Suasana sehabis hujan di Jalan Sunu sangat sejuk. Aroma tanah sedikit menyengat, mungkin karena bercampur dengan bau lumpur yang menjadi sajian harian ketika musim penghujan.
Tepat di depan kios Donat Tuli, sekelompok pemuda terlihat sedang asyik memilah jenis donat yang dijajakan. Ada yang sibuk berdiskusi, ada pula yang menunjuk beberapa untuk dibungkus dan dibawa pulang.
"Saya kayaknya mau yang coklat, almond sama rasa strawberry," ujar salah satu pemuda itu sambil memberikan isyarat kepada pelayan yang sedang bertugas. Dengan sigap, pelayanan itu menjepit satu percsatu pesanan dan memasukkannya ke dalam kardus yang kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik.
Saat ditanyai oleh portalmedia.id, seorang tunawicara Asma, siap untuk berbagi pengalamannya menjadi pramusaji di Donat Tuli.
Keterbatasan Asma yang terbata dalam berbicara tak menyulitkan penulis untuk berkomunikasi. Hal lain yang melancarkan komunikasi, adalah Asma piawai menerjemahkan lawan bicaranya meski terbatas dalam mendengar.
"Saya sudah bekerja sejak 2010 lalu. Setiap hari saya harus menempuh perjalanan dari tempat tinggal saya di jalan Baji Gau menuju Jalan Sunu," ujarnya sambil menulis di atas kertas diikuti dengan gerakan tangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News