0%
Kamis, 13 Agustus 2026 20:56

Ketika Yang Salah Bukan Murid, Melainkan Cara Kita Membacanya

Ketika Yang Salah Bukan Murid, Melainkan Cara Kita Membacanya

Ada satu pertanyaan yang selalu dibawa setiap kali memasuki gerbang sekolah: Mengapa ada murid yang datang terlambat? Mengapa ada yang memilih tidak masuk sekolah? Mengapa ada yang hadir setiap hari, tetapi pulang tanpa pernah benar-benar merasa belajar?

Selama ini, sistem pendidikan kita terlalu cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Aturan diperketat, pengawasan ditambah, dan berbagai program terus dibuat, seolah setiap persoalan murid selalu dapat diselesaikan dengan disiplin yang kaku.

Namun, semakin lama berkecimpung di dunia pendidikan, keyakinan itu kian bergeser. Persoalannya bukan pada murid, melainkan pada cara kita membacanya. Sebab, seorang murid tidak pernah hidup sebagai sekadar angka di atas kertas; ia hidup utuh sebagai manusia.

Yang selama ini kita lihat hanyalah nilainya. Yang kita catat hanyalah absensinya. Yang kita beri sanksi hanyalah pelanggarannya. Padahal, di balik semua itu tersimpan cerita yang sering kali luput dibaca.

Mungkin ada anak yang harus membanting tulang membantu orang tuanya sebelum berangkat ke sekolah. Mungkin ada kegelisahan senyap yang tak pernah memiliki ruang untuk diceritakan. Bahkan, di balik nilai yang rendah, bisa jadi ada seorang anak yang telah lama kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri.

Di era teknologi saat ini, sekolah tidak kekurangan data. Yang mulai langka justru kemampuan membaca manusia. Padahal, berbagai riset global telah lama menegaskan hal tersebut. PISA 2022 menunjukkan bahwa dukungan guru dan rasa memiliki terhadap sekolah sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar.

UNESCO menempatkan empati dan kemampuan sosial-emosional sebagai kompetensi penting abad ke-21. Sementara itu, WHO mengingatkan bahwa kesehatan mental remaja merupakan bagian tak terpisahkan dari proses belajar. Anak pada akhirnya akan belajar jauh lebih baik ketika mereka merasa benar-benar dipahami.

Kesadaran dan kegelisahan itulah yang dibawa ketika dipercaya memfasilitasi Kelas Kompetensi Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII di Kabupaten Enrekang. Hari itu, kelas tidak dimulai dengan teori kaku, melainkan mengajak para guru untuk menempatkan diri sebagai murid. Mereka membaca sejumlah cerita, berdiskusi, lalu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang sengaja dibatasi.

Perlahan, ruangan menjadi sunyi. Para guru mulai merasakan bagaimana rasanya dinilai sebelum dipahami. Dari proses itu, sebuah perubahan besar lahir dari ruang kelas: pertanyaan mereka bergeser dari “Bagaimana cara memperbaiki murid?” menjadi “Bagaimana sebenarnya kita membaca murid?”.

Perubahan pendidikan hampir selalu dimulai ketika pertanyaan dasar kita berubah. Perjalanan pulang dari Enrekang turut membawa perenungan pada garis sejarah keluarga, yakni sosok buyut Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito yang merupakan tokoh Kongres Perempuan Indonesia sekaligus penggerak lahirnya Hari Ibu.

Hampir satu abad lalu, para perempuan dari berbagai penjuru berkumpul atas keyakinan bahwa membangun bangsa harus dimulai dengan membangun manusia melalui pendidikan, keluarga, dan kesadaran sosial. Warisan terbesarnya bukanlah sekadar peringatan tahunan, melainkan cara pandang memerdekakan manusia agar mampu bertumbuh.

Refleksi itu menegaskan bahwa tugas pertama seorang guru bukanlah sekadar mengajar di depan kelas, melainkan:

  • Membaca cerita yang tidak pernah tertulis di buku pelajaran.
  • Membaca kecemasan yang tidak pernah muncul di kolom rapor.
  • Membaca potensi yang sering kali tersembunyi di balik perilaku seorang anak.

Di tengah gempuran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang mampu membaca jutaan data dalam detik, hanya manusia—dalam hal ini guru—yang mampu membaca manusia. Tidak ada algoritma yang sanggup menangkap tatapan seorang anak yang sedang kehilangan harapan, atau menyembuhkan luka yang membuatnya berhenti percaya diri.

Jika ada satu pola pikir yang perlu ditanamkan kepada setiap pendidik di Indonesia, maka itu adalah prinsip "jangan terburu-buru menilai sebelum sungguh-sungguh memahami." Sebab, setiap perilaku adalah pesan, dan hanya guru yang bersedia memahami yang akan mampu membacanya.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan Indonesia tidak selalu dimulai dari kurikulum baru atau teknologi canggih. Perubahan terbesar justru lahir ketika seorang guru memilih untuk melihat seorang murid sebagai manusia terlebih dahulu.