PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Jam dinding menunjukkan pukul 12.30 Wita. Syawal (25) sedang duduk santai di atas kursi. Ia mengenakan kaos oblong berwarna hitam, mengutak-atik ponsel pintarnya di dalam kios berukuran 3x4 meter. Kios ini terletak di pasar Pa'baeng-baeng, Jalan Sultan Alauddin No. 10, Kota Makassar.
Siang itu, cuaca sangat panas, terik mentari seakan menyapu ubun-ubun. Suasana pasar tidak begitu ramai. Di depan kios Syawal, sayur mayur diatur rapih. Lalu di dalam kios, bahan makanan dan bumbu dapur seperti beras, telur, minyak goreng, kecap, garam dan lainnya disusun di atas lemari mengikuti bentuk kios.
Seperti biasa, silih berganti pembeli melakukan transaksi tunai di kios Syawal. Mereka membayar belanjaan menggunakan uang kes. Hingga ketika seseorang menanyakan sebuah aplikasi pembayaran digital bernama QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Ia adalah Dilfa, perempuan (23) itu kebetulan melihat QR code yang dipajang persis di samping tumpukan telur.
Baca Juga : Produktivitas Fantastis, BI Panen Perdana Padi Gamagora 7 di Maros
"Bisa bayar pakai QRIS?" ucap Dilfa sambil membuka aplikasi mobile banking miliknya, Jumat (3/11/2023).
Tak menunggu waktu lama, Syawal pun mempersilahkan Dilfa untuk menggunakan QR code dan menyelesaikan transaksinya lewat mobile banking. Memang, transaksi menggunakan QRIS di pasar tradisional masih terbilang belum populer. Sebab, sebagian besar, pedagang yang berjualan di sana adalah masyarakat yang sudah lanjut usia. Sehingga mayoritas dari mereka belum melek digital.
Namun, walau demikian Perusahaan Daerah (PD) Pasar Makassar, bersama sejumlah perbankan di bawah naungan Bank Indonesia (BI) tetap aktif mensosialisasikan model transaksi pembayaran digital melalui QRIS. Makanya, semua pedagang pasar sudah kenal QRIS lewat QR Code yang dipasang di setiap kios yang ada di pasar Pa'baeng-baeng.
Baca Juga : Gerak Cepat Pemkot Makassar, Resmi Berlakukan QRIS di Pasar, Terminal dan PDAM
Di tempat lain, seorang pria yang berjualan barang campuran terlihat sibuk mengatur barang. Kavling tempat jualan yang digunakannya untuk memasarkan dagangan kira - kira berukuran 2x1 meter. Di dalam, susunan barang terlihat rapi. Kayu pembatas antara kios satu dan lainnya juga ditempeli QR code sebagai alternatif pembayaran digital.
Saat itu, ia menggunakan kaos hitam yang dipadu-padankan dengan celana jeans selutut. Sambil merapikan barang dagangannya, Nurung (60) menjelaskan, selama bertahun - tahun di Pasar Pa'baeng-baeng, ia senang jika transaksi jual beli menggunakan uang kes. Namun, sejak QRIS mulai diperkenalkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar lewat PD Pasar dua tahun lalu, ia merasa lebih dipermudah dalam hal transaksi.
"Karena tinggal scan QRIS, bisa mi masuk di rekening uangnya. Jadi tidak repot lagi untuk kasih uang kembalian," ucapnya sambil tersenyum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News