Selain itu, dengan menggunakan pembayaran lewat QRIS, Nurung bisa lebih gampang melakukan pembelian barang dan melengkapi kebutuhan jualannya. "Misal saya butuh beras, tinggal konfirmasi ke toko yang dituju, sisa ditransfer uangnya. Tinggal tunggu barangnya diantarkan langsung. Jadi lebih mudah," terangnya.
Tak hanya di pasar Pa'baeng-baeng, ternyata sosialisasi QRIS sudah merambah ke banyak pasar di Makassar seperti pasar Kampung Baru yang tak jauh dari kantor Balai Kota Makassar Jalan Raya Baruga. Siang itu, saat menyusuri pasar tersebut, puluhan kios berjejer rapi, namun sepi pengunjung. Beberapa kios juga telah tutup.
Baca Juga : Produktivitas Fantastis, BI Panen Perdana Padi Gamagora 7 di Maros
Nah, salah satu kios yang masih buka terlihat ramai. Seorang pria dari jauh sedang mengatur karung beras. Ada juga pengunjung yang baru saja melakukan transaksi dengan penjual. Adalah Sul, si pemilik toko beras tersebut. Ia telah berjualan beras selama 20 tahun. Selama itu juga, ia banyak belajar dan mulai mengikuti perkembangan zaman. Di kios tersebut, QR code telah dipajangnya sebagai alternatif transaksi digital menggunakan QRIS.
"Oh, kalau QRIS saya sudah gunakan selama 3 tahun. Tapi, memang belum maksimal dan tak berefek besar untuk tumbuh kembang penjualan. Selama saya disini, pengunjung jarang yang membayar pakai QRIS. Rata - rata pakai kes. Tapi sudah ada. Sekitar 15% penjualan saya, menggunakan QRIS," tuturnya.
Kehadiran QRIS di tengah masyarakat memang semakin memudahkan proses transaksi. Walau secara perlahan, namun sedikit demi sedikit, para pedagang pasar mulai teredukasi pembayaran digital. Mereka semakin kenal dan tau cara menggunakan QRIS lewat mobile banking. Kini, transformasi digital secara perlahan, mengubah perspektif pedagang pasar tradisional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News