0%
Rabu, 06 Desember 2023 02:46

Digitalisasi dan Anti Hate Speech: Peran Konten Kreator Mengubah Paradigma Kaum Muda

Editor : Gita Oktaviola
Konten kreator sebagai objek penyalur program anti hate speech dan bullying di media sosial. (Foto: Ilustrasi/belajarlagi.com)
Konten kreator sebagai objek penyalur program anti hate speech dan bullying di media sosial. (Foto: Ilustrasi/belajarlagi.com)

"Saya ingin, dengan adanya video pendek yang sedang kami buat ini. Para perempuan tidak gampang terkena bullying atau hate speech," tutur Julia seorang Konter Kreator asal Makassar.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Sore itu, waktu menunjukkan pukul 15.30 Wita. Seorang perempuan berjilbab hitam sedang berdiri persis di dekat danau pintu masuk kampus Universitas Hasanuddin (Unhas). Ia terlihat sibuk mengutak-atik kamera yang digenggamnya. Dari dekat, terlihat tangan kanannya sedang memencet tombol kamera lalu dengan bersamaan tangan kirinya juga memutar lensa. Ia kelihatan sangat piawai memfungsikan benda tersebut.

Di tempat lain, sekitar jarak 5 meter, dua orang perempuan sedang sibuk berkomunikasi. Sesekali ia akan menyontek kertas di tangannya lalu kemudian disusul dengan pandangan lurus ke arah lawan bicaranya sambil berkomat-kamit. Mereka bertiga seakan sedang melakoni peran dalam proyek per-film-an.

Hari itu, masing-masing dari mereka menggunakan jilbab berwarna hitam. Bedanya, yang satu mengenakan kemeja berwarna merah yang dipadu-padankan dengan rok hitam. Lalu, satunya lagi mengenakan baju kaos hitam yang dipasangkan dengan celana jeans hitam panjang.

Baca Juga : Bocah 12 Tahun di Finlandia Tembak Teman Sekolah Gegara Sering Dibully

Berkunjung ke sana, Julia Hastuti (yang memegang kamera) seorang mahasiswi jurusan Administrasi Publik Unhas memang sedang mempertontonkan reka adegan untuk sebuah konten disalah satu platfom digital yakni TikTok dan Instagram. Ia dan dua orang temannya sedang menggarap isu bullying yang marak terjadi di dunia kampus.

Perempuan 21 tahun itu, berencana mengangkat isu kekerasan seksual (pencabulan, penyiksaaan seksual, perkosaan dan eksploitasi tubuh seseorang) yang sering mengarah ketindak diskriminasi bagi perempuan di dunia kampus. Alasan Julia sapaannya mengangkat tema tersebut, karena sebagian konten kreator di Indonesia biasanya memanfaatkan momen kekerasan seksual untuk meraup untung di media sosial. Tanpa memerhatikan dampak yang terjadi untuk korban. Sehingga ujung-ujungnya terjadi bullying dan hate speech.

Menurut Julia, biasanya konten digital berbau kekerasan seksual mengundang informasi yang tidak sesuai dengan fakta atau yang akrab disebut hoax. Hal ini bisa saja terjadi karena rendahnya literasi informasi digital masyarakat sehingga gampang mengklaim suatu hal hanya dari video pendek.

Baca Juga : Jokowi Angkat Bicara Soal Kasus Bullying yang Marak di Sekolah

"Sebagian dari konten kreator yang saya pelajari selama ini, biasanya menumpang ketenaran dari masalah hidup yang dialami seseorang. Misalnya kalau dari sisi kasus kekerasan seksual. Mereka melakukan penyebaran foto, video dan tangakapan layar percakapan antara korban dan pelaku dan diposting ke media sosial. Biasanya postingan seperti itu mengundang banyak komentar dari netizen. Dari situlah mereka biasanya menerima banyak followers dan keuntungan yang lain," ucap Julia.

Nah, berangkat dari sanalah, Julia seorang Konten Kreator asal Makassar  dan dua temannya ingin memberikan edukasi kepada warganet agar bijak dalam bersosial media. Ia ingin menumbuhkan budaya literasi digital dengan konten positif berbau kekerasan seksual. Dari konten yang ingin digarapnya, Julia dan temannya ingin memberikan edukasi positif tentang bahaya kekerasan berbasis gender online.

"Saya ingin, dengan adanya video pendek yang sedang kami buat ini. Para perempuan tidak gampang terkena bullying atau hate speech. Mereka bisa menjaga diri sebaik mungkin agar terhindar dari konten digital yang negatif," jelas Julia.

Baca Juga : TPPK Diharapkan Bisa Atasi Perundungan di Sekolah

Tak hanya itu, Julia juga berencana menjadikan konten videonya sebagai filmmaker untuk menggaungkan kampaye anti bullying dan hate speech di media sosial. Keinginannya itu muncul setelah Julia dan rekannya mengikuti kegiatan Indosat Ooredoo, 15 November 2023 lalu.

"Di kegiatan itu. Kami diajak untuk mengikuti ajang Festival Film Pendek Save Our Sosmed 2023 untuk mengampanyekan anti hate speech. Dan saya rasa, konten anti hate speech untuk kasus kekerasan seksual perlu untuk dikampanyekan melalui filmmaker berdurasi pendek," terangnya.

Julia berharap, kampanya anti kekerasan seksual yang akan diikutkannya dalam perlombaan filmmaker dari Indosat dapat mengedukasi anak muda Indonesia untuk ikut menyuarakan anti bullying dan hate speech.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar