PORTALMEDIA.ID – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memperkenalkan gagasan baru yang diberi nama kurikulum cinta, sebuah pendekatan pendidikan yang bertujuan menanamkan nilai kasih sayang, toleransi, dan anti-kebencian sejak dini melalui pendidikan agama.
Gagasan ini ia sampaikan saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Raya Waisak di Wihara Ekayana Arama, Jakarta Barat, pada Senin (12/6/2025).
Menurut Nasaruddin, kurikulum cinta dirancang agar para guru agama tidak hanya mengajarkan doktrin keagamaan, tapi juga membentuk karakter welas asih di kalangan pelajar.
Baca Juga : Setelah Turun Sejak 2022, Angka Pernikahan Mulai Bangkit di 2025
“Kementerian Agama mendeklarasikan apa yang kami istilahkan sebagai kurikulum cinta. Ini sekarang sedang viral. Kurikulum ini mengajak guru-guru agama untuk mengajarkan cinta, bukan kebencian. Tidak ada satu pun agama yang menganjurkan kebencian,” tegas Nasaruddin di hadapan umat Buddha yang hadir.
Ia menyoroti pentingnya peran guru agama dalam membentuk sikap siswa terhadap perbedaan. Nasaruddin mengkritik keras pengajaran yang justru menanamkan kebencian atas nama agama.
“Kalau ada guru agama yang berkata, ‘hei, itu najis’, dan mengajarkan kebencian kepada anak-anak, maka itu bukan ajaran agama, itu justru kebalikan dari nilai-nilai agama,” imbuhnya.
Baca Juga : KPK Dorong Penguatan Etika dan Objektivitas di Lingkungan Kemenag
Menag menilai bahwa kedalaman pemahaman terhadap agama akan memperkuat titik temu antar umat beragama. Sebaliknya, pemahaman yang dangkal hanya akan memperbesar jurang perbedaan.
“Semakin kita mendalami agama, semakin mudah menemukan kesamaan. Islam dan Buddha, misalnya, sama-sama mengajarkan cinta kasih, bahkan sampai ke alam semesta. Tidak ada benda mati — semua bagian dari ciptaan Tuhan yang patut dihargai,” jelasnya.
Nasaruddin juga menekankan bahwa Indonesia memiliki kesamaan sejarah dan akar budaya yang kuat di antara warganya. Karena itu, ia mempertanyakan alasan munculnya konflik yang kerap kali bersumber dari perbedaan identitas.
Baca Juga : DPR Dukung Revisi Regulasi untuk Percepat Internasionalisasi PTKIN
“Kenapa kita harus saling bermusuhan? Kurikulum cinta ini hadir sebagai jawaban. Ini cara kita mengajarkan cinta bukan hanya kepada sesama manusia, tapi kepada seluruh alam semesta,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News