“Jenis mikroplastik yang mendominasi adalah jenis fiber atau benang sebesar 74% disusul jenis fragmen atau cuilan plastik sebesar 14% sedangkan jenis filament atau lembaran sebesar 12%,” ujar Prigi Arisandi.
lebih lanjut aktivis lingkungan ini menjelaskan bahwa banyaknya mikroplastik jenis fiber ini menunjukkan pencemaran limbah domestik yang tidak dikelola dan langsung di buang ke sungai, salah satu komponen limbah domestic adalah air limbah cucian pakaian.
“Pakaian yang kita pakai saat ini umumnya jenis polyester yang terbuat dari plastik, dalam proses pencucian benag-benang plastik akan rontok dan terbilas dalam air cucian dan mencemari air sungai karena umumnya limbah domestic rumah tangga di Kota Makasar dibuang ke media air tanpa proses pengolahan," bebernya.
Mikroplastik Ancam Kesehatan
Baca Juga : Bupati Gowa Sebut Tidak Ada Hutan Gundul, Pemkab Siap Tanam Puluhan Ribu Pohon Cegah Bencana
“Mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari hasil pemecahan dari sampah plastik seperti tas kresek, Styrofoam, botol plastik, sedotan, alat penangkap ikan, popok dan sampah plastik lainnya yang dibuang di aliran sungai Jeneberang, karena paparan sinar matahari dan pengaru fisik pasang surut maka sampah plastik ini akan rapuh dan terpecah menjadi remah-remah kecil,” kata Prigi Arisandi.
Secara umum Tim ESN melihat ada 3 faktor penyebab pencemaran mikroplastik di Sungai Jeneberang.
- Minimnya layanan pengangkutan sampah dari rumah-rumah penduduk ke tempat pengumpulan sampah sementara.
- Minimnya kesadaran memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya
- Masifnya penggunaan plastik sekali pakai,seperti tas kresek, sedotan, Styrofoam, popok dan botol plastik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News