Pemerintah Harus fasilitasi Isu Kesehatan Mental
Pemerintah tutur Ana, harus concern memfasilitasi isu kesehatan mental. Banyak masyarakat belum tahu tentang kesehatan mental.
"Apakah kalau sakit mental perlu ke rumah sakit atau puskesmas atau kemana? Hal ini bahkan belum banyak yang tahu," katanya.
Baca Juga : Kenakan Seragam Petugas Kebersihan, Pemuda di Makassar Ditemukan Tewas Tergantung
"Itu dulu yang penting. Sebab, sudah terlalu banyak pencetus orang bunuh diri di Makassar. Misalnya, salah satu pasien saya yang hanya shock culture, sampai dia pernah berpikir untuk bunuh diri tiga kali," lanjut Ana.
Ada beberapa penyebab komplek biasanya orang berfikir untuk mengakhiri hidup, seperti pola asuh, tipe kerja, kematangan emosi, dll.
"Dan penting untuk diketahui jika berhadapan dengan orang yang memiliki masalah kesehatan mental. jangan dicemooh. Banyak yang terjadi seperti itu. Makanya sebagian dari mereka memilih untuk tidak menceritakan maslahnya ke orang lain dan terlihat baik-baik saja," terangnya.
Hapus Stigma Guru BK yang Menyeramkan
Baca Juga : Diduga Lakukan Teror Penagihan hingga Sebabkan Debitur Bunuh Diri, AdaKami di Sidang OJK
Di lingkungan sekolah juga katanya, sangat dianjurkan untuk menerapkan isu kesehatan mental dengan praktik konseling. Karena Ana melihat, fungsi guru BK di sekolah tidak berfungsi dengan baik.
"Mereka yang ditempatkan menjadi guru BK justru menghadirkan stigma negatif untuk siswa," katanya.
Misalnya, lanjut Ana, guru BK selalu disosokkan sebagai guru yang seram dan tegas. "Hal ini justru membuat siswa menjauh, dan tidak menceritakan masalahnya karena guru BK di sekolah hanya menyelesaikan kasus anak-anak yang dianggap nakal," ujar Ana.
Baca Juga : BIJANTA : Integrasi Kesehatan Jiwa Terpadu dari Kabupaten Bulukumba
Dalam hal ini, kata Ana, harusnya, guru BK menjadi garda terdepan untuk membantu siswa keluar dari masalah kesehatan mental yang dialaminya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News