0%
Jumat, 23 Desember 2022 23:56

Medical Hacking Pelopori Sembuh Tanpa Obat Kimiawi dan Operasi: Gabungkan 3 Disiplin Ilmu

Editor : Rasdiyanah
Salah seorang pasien yang ditangani oleh Medical Hacking. Foto: dok
Salah seorang pasien yang ditangani oleh Medical Hacking. Foto: dok

Master Terapis Fitri Yanti memperkenal metode sembuh tanpa harus minum obat kimiawi dan operasi.

Kantongi Izin Resmi 

Rumah Terapi Medical Hacking sudah memiliki izin dan legalitas resmi, dan telah
mengantongi izin praktik dari Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Medical
Hacking sekarang memiliki tiga cabang klinik, yaitu di Bintaro Jakarta, Bekasi, dan
Pekanbaru.

"Alhamdulillah, dengan tiga cabang yang kami miliki, kami banyak membantu pasien kami untuk sembuh dari penyakit yang diderita. Misalnya pasien jantung dengan penyumbatan 100% dan harus operasi by pass. Alhamdulillah atas izin Allah setelah mengikuti terapi dari kami, sumbatan jantung terbuka dan kembali normal dan tidak perlu dioperasi," papar Fitri. 

Baca Juga : UMP 2026 Ditetapkan, DPR Dorong Keseimbangan Upah dan Produktivitas

Ia menambahkan, dalam rekam medical pasiennya, ada juga pasien yang memiliki saraf kejepit yang datang telahmenggunakan kursi roda.

"Setelah mengikuti terapi yang kami berikan, pasien dapat kembali berjalan normal. Alhamdulillah sekali,” ujar Fitri.

Rumah Terapi Medical Hacking menekankan bahwa tubuh mampu menyembuhkan dirinya dari penyakit. Hal ini seperti yang telah disampaikan dalam ajaran agama Islam, Allah menciptakan tubuh manusia dengan sebaik-baiknya ciptaan.

Baca Juga : UMK Makassar 2025 Resmi Ditetapkan Rp3,8 Juta, Naik 6,5 Persen

"Maka dari itu, Rumah Terapi Medical Hacking yakin obat untuk sembuhnya seseorang dari penyakitnya adalah tubuhnya sendiri," katanya. 

Menurut Fitri, dengan melakukan perbaikan terhadap sistem kerangka tubuh, saraf, dan pembuluh darah, tubuh akan dapat melakukan sistem auto recovery terhadap penyakit yang ada di dalam tubuh.

Biasanya penyakit itu muncul karena adanya penyimpangan struktur rangka tubuh yang berakibat pada ketidakharmonisan sistem saraf dan metabolisme tubuh. Fitri memberi contoh kasus pasien yang ditanganinya, yaitu anak berkebutuhan khusus.

Baca Juga : Apindo Kritik Kenaikan UMP 2025 Sebesar 6,5 Persen, Sebut Bebani Pengusaha

“Kami pernah kedatangan pasien anak autis yang sangat hiperaktif. Orang tua sudah putus harapan karena sudah berobat ke banyak tempat tapi anaknya tidak kunjung membaik dan justru bertambah hiperaktif,” kata Fitri.

Fitri dan tim kemudian menemukan adanya indikasi struktur tulang cervical anak tersebut
yang tidak harmonis sehingga menyebabkan tekanan di beberapa ruasnya dan berakibat
ketidakharmonisan pada sistem saraf.

“Setelah beberapa sesi terapi dengan memberikan gerakan khusus dan stimulasi di jalur saraf serta titik meridian tertentu, Alhamdulillah atas izin Allah, pasien autis tersebut dapat kembali normal,” pungkas Fitri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar