"Ada patahan Walanae yang magnitude-nya besar tapi frekuensinya kecil, gempanya jarang terjadi. Berbanding terbalik dengan Palu Koro yang magnitude-nya kecil tapi sering terjadi," kata Jamroni.
Jamroni menjelaskan bahwa prediksi Frank Hoogerbeets kemungkinan karena patahan di Turki memiliki karakteristik yang mirip dengan di Sulawesi. Selain itu, para ilmuwan dunia tidak ada yang menyinggung mengenai prediksi gempa tersebut.
Menurutnya, apabila ada kabar terkait kemungkinan adanya bencana maka para peneliti akan langsung membahasnya.
Baca Juga : Cuaca Buruk Akan Landa Beberapa Wilayah di Sulsel hingga 17 April
"Tidak ada yang meributkan kondisi seperti ini. Mereka cenderung mencari solusi. Pakar dunia tidak ada yang membahas ini. Jadi kami menganggap kebetulan ramalan dan pas," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
