Macet Menahun di Jembatan Barombong, Jalan Panjang Penantian Warga Belum Berujung
Macet yang menahun telah terjadi di sekitaran Jembatan Barombong, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. Meski telah ada rekayasa lalu lintas yang mengurai macet sementara, warga dan pengguna jalan masih menanti solusi permanen dari kemacetan ini. Namun, kemacetan di sekitaran Jembatan Barombong tak melulu disesalkan, sebab juga menjadi sumber rezeki bagi pengusaha penyeberangan sungai. Kisah ini dihadirkan portalmedia menjadi sisi lain dari cerita kemacetan yang menahun di Jembatan Barombong.
PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Macet yang menahun yang terjadi di Jembatan Barombong menjadi hal yang sedikit terlupakan oleh warga sekitar dan pengguna jembatan yang menghubungkan Makassar dan Gowa ini.
Sedikit terlupakan ini sejak adanya rekayasa lalu lintas yang tujuannya memang mengurai macet yang menjadi langganan pengguna jalan khususnya di jam-jam padat kendaraan, utamanya pada pagi dan sore hari. Hal ini diperparah karena di sekitar jembatan tersebut tidak ada jalan darat alternatif lain, kecuali perahu penyeberangan.
Walau masih dalam bentuk rekayasa lalu lintas, dan bersifat sementara, namun hal ini sudah menjadi angin segar bagi pengguna jalan. Namun, tidak demikian dengan warga sekitar yang merasa dirugikan dengan rekayasa ini. Aksi protes bahkan sempat dilayangkan warga sekitar pada awal Agustus lalu, tepatnya pada Selasa (9/8/2022).
Baca Juga : Wali Kota Makassar Tekankan Peran Pemuda Jadi Motor Perubahan Saat Buka LK2 HMI
Diketahui, pada saat itu, sejumlah warga perumahan Tanjung Alya Regency melakukan aksi unjuk rasa dengan menutup jalan dari arah Jembatan Barombong menuju Kota Makassar. Peserta unjuk rasa itu didominasi kaum emak-emak, mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan "Kami selaku warga Tanjung Alya Regency dan Bayoa menolak pentupan akses jalan kami".
Aksi mereka lakukan itu sebagai bentuk penolakan terhadap rekayasa lalu lintas yang bertujuan untuk mengurai kemacetan yang menahun di wilayah tersebut.
Mereka merasa dirugikan dengan adanya rekayasa lalu lintas ini, sebab jika ingin mengarah ke Kota Makassar mereka harus memutar sejauh 5 kilometer. Beda saat normal, sebelum rekayasa lalu lintas dilakukan jarak yang mereka butuhkan untuk memutar arus hanya 500 meter.
Baca Juga : KPU Temui Wali Kota Makassar Bahas Sinergi Program Pemutakhiran Data dan Pendidikan Pemilih
"Hasil rapat antara warga semalam, cuman meminta buka jalan dari arah Makassar yang belok kiri langsung, bukan kita ini warga seenaknya semua mau dibuka, tidak. Kita tahu aturan juga," kata Ketua RW 13 perumahan Tanjung Alya Regency, Irfan Latif, saat dikonfirmasi oleh portalmedia.
Ia juga berharap pemerintah bisa memediasi permintaan mereka hingga menemukan kesepakatan bersama yang tidak merugikan banyak pihak.
"Bagaimana solusinya, kita bicarakan dengan baik-baik. Petugas yang ada dengan warga dan RT/RWnya untuk mencari jalan terbaik supaya bisa enak," lanjutnya.
Solusi Masih Menggantung
Baca Juga : Perkuat Sinergi Aparat dan Warga, Wali Kota Makassar Sambut Program FKPM Ditbinmas Polda Sulsel
Wali Kota Makassar sendiri berkali-kali ditanyai mengenai solusi permanen dari kemacetan menahun di wilayah yang terletak di Kecamatan Tamalate ini.
Mohammad Ramdhan Pomanto mengatakan pihaknya tidak menganggarkan pelebaran jembatan atau pun pembangunan jembatan. "Karena itu bentangannya sudah 400 meter lebih, itu sudah anggaran APBN, tapi usulannya harus lewat provinsi," kata, Danny sapaan akrabnya kepada Portalmedia, belum lama ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News