Uluran Tangan Perajut Senyum Tunadaksa: Melupakan Keterbatasan, Rintis Usaha dari Nol hingga Goal
Adalah Muhammad Takdir (41), seorang lelaki penyandang tunadaksa yang tinggal di daerah Gowa Sulsel. Menjadi menarik untuk diangkat kisahnya, sebab Ia awalnya adalah seorang yang normal seperti biasanya, hingga mengalami kecelakaan dan memaksanya menjadi penyandang disabilitas. Hampir 9 tahun berlalu sejak kecelakaan itu, Ia hampir tak bisa berbuat apa-apa, dibuat kaget dengan kondisinya yang baru tanpa kaki. Hingga pada akhirnya uluran tangan itu datang.
PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Cerita perjuangan seseorang yang dari titik nol kemudian menjadi berhasil di titik tertentu, selalu menarik untuk dibicarakan. Terlebih jika yang mengalami adalah orang yang memiliki keterbatasan tertentu, sebutlah misalnya penyandang disabilitas.
Cerita-cerita penyandang disabilitas yang bangkit, berjuang, dan mampu tersenyum kembali dengan keterbatasannya, selalu bisa menjadi cerita inspiratif yang mengajarkan orang lain untuk tidak mengenal kata putus asa, putus harapan, atau sinonim-sinonim lainnya yang menggambarkan asa yang habis.
Penulis ingin berbagi cerita tentang semangat seorang penyandang disabilitas yang tinggal di daerah Gowa, Sulawesi Selatan. Cerita dari seseorang difabel yang memiliki nama Muhammad Takdir (41) ini menjadi menarik di mata penulis, sebab Ia awalnya merupakan pria biasa-biasa saja, pria normal pada umumnya, memiliki kaki untuk berjalan, bekerja dan beraktivitas.
Baca Juga : Berdaya Muda: Pelatihan Literasi Digital untuk Penyandang Disabilitas Usia Produktif di Makassar
Sampai pada sebuah kecelakaan mengharuskannya menjadi penyandang disabilitas seumur hidup. Tak gampang bagi seorang Takdir yang awalnya normal-normal saja kemudian langsung berhadapan dengan keterbatasan melangkah, keterbatasan bekerja, bahkan seolah menjadi beban baru di lingkungan dan keluarga.
Ia harus melewati masa cukup panjang, sekitar 8 tahun lebih untuk melihat kembali harapan, melihat kembali masih asa, melihat kembali ternyata masih ada yang sisa-sisa yang bisa diperjuangkan untuk bisa berdiri kembali walau tanpa kaki sekalipun.
Ia kemudian membenarkan ungkapan selalu ada pelangi setelah hujan yang panjang, dan hal itulah yang ia rasakan setelah ada uluran tangan Yayasan Kalla melalui program Disabilitas Siap Kerja.
Baca Juga : 35.782 Pekerja Rentan di Makassar Terima Jaminan Keselamatan dari Pemkot
Waktu itu Senin, 03 Oktober 2022, tepat pukul 16.00 cuaca mendung di Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa cukup sangsi. Angin kencang dan suara petir seakan menyampaikan isyarat bagi pengguna jalan untuk bernaung.
Setelah melewati beberapa rumah dan menyusuri jalan berkelok-kelok, penulis tiba di Desa Barisallo. Sebuah rumah berukuran kira-kira 10x5m² dengan halaman yang cukup lapang untuk parkiran motor, sehingga kendraan yang diparkir sangat aman tanpa harus menjadi penghalang di tepi jalan.
Saat menghampiri pemilik rumah, pandangan penulis teralihkan oleh bangunan cor yang berdinding seng, seakan menyimpan pengalaman yang mengesankan. Rumah ini, memberikan gambaran karakter pemiliknya.
Baca Juga : Yayasan Hadji Kalla dan Yayasan Al Ghazali Resmikan Workshop H. Achmad Kalla Fakultas Teknik UIM
Adalah Takdir, sapaan karib pemilik rumah yang didatangi oleh penulis. Ia seorang penyandang disabilitas daksa yang ingin sukarela berbagi cerita pengalaman bangkitnya kembali setelah hampir-hampir tak melihat adanya harapan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News