0%
karangan bunga makassar
Kamis, 06 Oktober 2022 12:04

Uluran Tangan Perajut Senyum Tunadaksa: Melupakan Keterbatasan, Rintis Usaha dari Nol hingga Goal

Aktvitas Takdir, dari pelatihan yang diperolehnya di "Teman Disabitas", Ia juga bisa memperbaiki komputer. Foto: Portalmedia?Gita
Aktvitas Takdir, dari pelatihan yang diperolehnya di "Teman Disabitas", Ia juga bisa memperbaiki komputer. Foto: Portalmedia?Gita

Adalah Muhammad Takdir (41), seorang lelaki penyandang tunadaksa yang tinggal di daerah Gowa Sulsel. Menjadi menarik untuk diangkat kisahnya, sebab Ia awalnya adalah seorang yang normal seperti biasanya, hingga mengalami kecelakaan dan memaksanya menjadi penyandang disabilitas. Hampir 9 tahun berlalu sejak kecelakaan itu, Ia hampir tak bisa berbuat apa-apa, dibuat kaget dengan kondisinya yang baru tanpa kaki. Hingga pada akhirnya uluran tangan itu datang.

dewanpers

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Cerita perjuangan seseorang yang dari titik nol kemudian menjadi berhasil di titik tertentu, selalu menarik untuk dibicarakan. Terlebih jika yang mengalami adalah orang yang memiliki keterbatasan tertentu, sebutlah misalnya penyandang disabilitas. 

iklan pdam

Cerita-cerita penyandang disabilitas yang bangkit, berjuang, dan mampu tersenyum kembali dengan keterbatasannya, selalu bisa menjadi cerita inspiratif yang mengajarkan orang lain untuk tidak mengenal kata putus asa, putus harapan, atau sinonim-sinonim lainnya yang menggambarkan asa yang habis. 

Penulis ingin berbagi cerita tentang semangat seorang penyandang disabilitas yang tinggal di daerah Gowa, Sulawesi Selatan. Cerita dari seseorang difabel yang memiliki nama Muhammad Takdir (41) ini menjadi menarik di mata penulis, sebab Ia awalnya merupakan pria biasa-biasa saja, pria normal pada umumnya, memiliki kaki untuk berjalan, bekerja dan beraktivitas. 

Baca Juga : Melalui Program Pemberdayaan, Yayasan Kalla dan DT Peduli Beri Modal Usaha untuk Muallaf di Sulsel

Sampai pada sebuah kecelakaan mengharuskannya menjadi penyandang disabilitas seumur hidup. Tak gampang bagi seorang Takdir yang awalnya normal-normal saja kemudian langsung berhadapan dengan keterbatasan melangkah, keterbatasan bekerja, bahkan seolah menjadi beban baru di lingkungan dan keluarga. 

Ia harus melewati masa cukup panjang, sekitar 8 tahun lebih untuk melihat kembali harapan, melihat kembali masih asa, melihat kembali ternyata masih ada yang sisa-sisa yang bisa diperjuangkan untuk bisa berdiri kembali walau tanpa kaki sekalipun.

Ia kemudian membenarkan ungkapan selalu ada pelangi setelah hujan yang panjang, dan hal itulah yang ia rasakan setelah ada uluran tangan Yayasan Kalla melalui program Disabilitas Siap Kerja. 

Waktu itu Senin, 03 Oktober 2022, tepat pukul 16.00 cuaca mendung di Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa cukup sangsi. Angin kencang dan suara petir seakan menyampaikan isyarat bagi pengguna jalan untuk bernaung. 

Setelah melewati beberapa rumah dan menyusuri jalan berkelok-kelok, penulis tiba di Desa Barisallo. Sebuah rumah berukuran kira-kira 10x5m² dengan halaman yang cukup lapang untuk parkiran motor, sehingga kendraan yang diparkir sangat aman tanpa harus menjadi penghalang di tepi jalan. 

Saat menghampiri pemilik rumah, pandangan penulis teralihkan oleh bangunan cor yang berdinding seng, seakan menyimpan pengalaman yang mengesankan. Rumah ini, memberikan gambaran karakter pemiliknya.

Adalah Takdir, sapaan karib pemilik rumah yang didatangi oleh penulis. Ia seorang penyandang disabilitas daksa yang ingin sukarela berbagi cerita pengalaman bangkitnya kembali setelah hampir-hampir tak melihat adanya harapan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Gita
Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp 0811892345. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar
Populer