Anak-anak Menangis, Latihan Berminggu-minggu
Tangis anak-anak pecah saat mereka usai berlari di depan tamu undangan. Air mata yang mengalir di wajah menyimbolkan rasa pahit di dada. Mereka membawa pulang asa yang tak sesuai dengan realita. HUT Kota Makassar dibanjiri hujan air mata oleh 400 anak yang berharap besar untuk pentas di atas panggung yang besar pula.
"Latihan berminggu-minggu dihapuskan dengan berlari tujuh menit. Ini tidak adil untuk anak-anak. Bagaimana kira -kira perasaan seorang ibu yang saksikan perjuangan anaknya latihan. Lalu, tidak tampil. Deh, rugi sekali," ucapnya sambil sesenggukan.
Baca Juga : Munafri Arifuddin: Rakernas APEKSI Jadi Forum Strategis Perkuat Kolaborasi dan Pelayanan Publik
Kejadian ini menimbulkan konflik. Kata Diah, ia berharap tanggung jawab dari pemerintah. Perjuangan 400 anak harus terbayarkan dengan konsep kegiatan yang sama.
"Karena, salah satu yang buat mereka konsisten latihan dan bersemangat karena panggung besar yang dijanjikan. Bagus sekali panggungnya HUT. Makanya, jika misalkan kekecewaan anak-anak akan digantikan dengan pentas yang sama. Saya harap panggungnya juga sama," tuturnya.
Konsep Kegiatan yang Tak Matang
Perayaan HUT Makassar harusnya dilakukan dengan konsep kegiatan yang matang. Tapi, lagi-lagi tidak sesuai dengan realita. Tenda yang dijanjikan untuk 400 anak tak memiliki pencahayaan. Lalu, toilet juga sangat jauh dari jangkauan.
Baca Juga : Terima Kepala BKKBN Sulsel, Munafri Arifuddin Minta Penanganan Stunting Berkelanjutan
"Sampai ada itu anak-anak yang dikasih kecing sama orang tuanya di pinggir tenda karena jauh sekali dari jangkauan wc. Intinya, kalau ini acara dipersiapkan dengan bagus. Pasti disiapkan wc umum di beberapa titik," bebernya.
Bukan cuma itu, insiden kursi yang tak disiapkan untuk anak-anak juga menjadi bukti kegiatan yang tidak dipersiapkan dengan baik.
"Saya coba sampaikan ke panitia soal kursi, karena anak-anak cuma duduk di lantai. Tapi, pas saya minta kursi yang tidak bepenghuni. Katanya, sudah disiapkan untuk talent lain," ungkapnya.
Baca Juga : Diikuti Ratusan Purnapraja Lintas Provinsi, Wali Kota Munafri Apresiasi Turnamen Padel IKAPTK Sulsel
Makanya, Diah berfikir jika perencanaan kegiatan yang tak jelas ini hanya menjadikan pilu untuk 400 anak yang tampil sebagai peran pembantu untuk kepantingan penguasa yang tak pasti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

