"Nah, kami disebar dalam 4 mikro claster atau wilayah. Masing masing wilayah itu ada pembagiannya, ada tim distribusi, markom, dan data analis yang di pusat untuk mengakomodir wilayah itu. Berkat opportunity di Indosat, saya bisa diterima," katanya.
"Saya juga melihat bahwa Indosat inikan perusahaan yang besar, makanya saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dan jangka panjangnya juga bagus. Makanya kami memilih untuk join," lanjut Elsa.
Berbekal Kemampuan Organisasi
Hanya berbekal kemampuan berorganisasi di internal dan eksternal kampus, anak pertama dari 2 orang bersaudara ini, akhirnya berhasil menjelajahi proses magang di Indosat dan direkrut sebagai karyawan.
Baca Juga : Mahasiswa Unhas Gagas "Megapolis Water Sensitive" untuk Atasi Krisis Air dan Banjir Perkotaan
"Dan dari situ. Mulai terbuka jalan menuju apa yang saya inginkan. Setelah proses magang, saya melakukan presentasi akhir dan langsung ditawari masuk di Indosat. Cuma waktu itu, saya ditawari masuk sebagai sales agent. Itu pun masih status outsourcing atau vendor," bebernya
Setelah selesai magang, lanjut Elsa, keesokan harinya, dirinya langsung ditawari masuk ke situ (perusahaan Indosat) sembari menyelesaikan skripsi.
"Magang kemarin 6 bulan. Dan setelah itu selesai kebetulan kami dapat opportunity untuk daftar dan sekarang lolos di Indosat bukan vendor lagi, tapi sebagai Cluster Sales Manager," ujarnya.
Didaulat sebagai Pemimpin hingga Sukses Mengarahkan Anggota
Baca Juga : Tragis, Wanita di Maros Tewas Usai Bertengkar dengan Kekasih
Setelah menjadi Cluster Sales Manager, Elsa semakin meneguhkan diri untuk menjadi perempuan yang sukses. Walaupun ada banyak hambatan yang dialaminya di tiga bulan pertama mengemban jabatan penting tersebut.
"Apalagi kan saya masih fresh graduate, pasti tantangannya banyak. Termasuk juga di bagian sales. Pencapaian turun sedikit atau pertanyaan yang simple dari atasan, itu jawabannya susah. Belum lagi kita harus presentasi ke bos penjelasan panjang lebar. Itu memang tantangannya di awal," ungkapnya.
Kadang, Elsa juga merasa terintimidasi. Sebab, orang-orang yang dipimpinnya itu jauh lebih dewasa dari dirinya.
Baca Juga : Alumni Lintas Generasi Soroti Krisis Kepemimpinan dan Pudarnya Ruh Akademik di Unhas
"Itu kan tantangan besar. Psikologinya jauh berbeda. Apalagi ada target dengan 500 mitra. Semua itu harus dibangun dengan kerja sama," tuturnya sambil tersenyum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News