"Saya mau bagaimana agar kasus ini terbuka dan terang, supaya anak saya mendapat keadilan," harapnya.
Kronologi Versi Pelaku
Rafli sendiri telah mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada orang tua korban di hadapan jaksa dalam proses Restorative Justice yang berlangsung di Kantor Kejari Makassar belum lama ini.
Dengan rasa penuh penyesalan Rafli berjanji akan membantu korban untuk mendapatkan keadilan. Ia lalu menceritakan dengan detail bagaimana proses pengeroyokan yang diketahui terjadi pada Rabu, 21 September 2022 itu.
Baca Juga : Anak di Bawah Umur Jadi Korban Pengeroyokan di Gowa, 5 Pelaku Diamankan Polisi
Rafli berujar bahwa awal persitiwa tersebut terjadi memang dilatar belakangi adanya ketersinggungan antara siswa kelas duabelas dengan kelas sebelas SMAN2 Makassar. Oleh karena sebuah coretan di dinding.
Coretan di dinding yang dimaksud adalah sebuah tulisan angka 2023 yang menjadi simbol bahwa angkatan Rafli sebentar lagi lulus sekolah. Namun, siswa kelas sebelas yang merupakan angkatan korban mengubah tulisan itu menjadi 2024.
"Ini anak-anak kelas duabelas temanku semua tersinggung karena anak-anak kelas sebelas temannya MS (korban) ganti tulisannya teman angkatanku. Diganti angka tiga menjadi angka empat," ujar ungkap Rafli.
Baca Juga : Potret Suram Implementasi Restorative Justice dalam Penanganan Kasus Narkotika di Sulsel
Ketersinggung Rafli dan teman-temannya berakhir pada dugaan tindak pidana penganiayaan yang dialami korban. Korban MS dikeroyok yang mengakibatkan luka fisik serius.
"Saya sendiri waktu itu sedang olah raga main volly, terus saya lihat teman angkatan kumpul, dekat tempat kumpulnya anak-anak kelas sebelas. Saya lalu ke sana, nimbrung juga sama angkatanku. Saya dengar di situ temanku mancing-mancing kayak mau ribut, teriak-teriak yang mengarah ke anak-anak kelas sebelas," kata Rafli menceritakan awal mula kejadian pengeroyokan tersebut.
Lanjut dia, setelah dari situ teman-temannya bergeser ke arah belakang sekolah, tepatnya di samping masjid tempat mereka anak kelas dua belas biasanya bekumpul. Rafli sendiri tidak ikut, dia kembali ke kelas.
Baca Juga : Dua Saudara Kembar di Makassar Keroyok Tetangga Lantaran Tak Terima Ditegur Curi Mangga
"Saya kemudian dapat pesan, saya dipanggil ikut ke sana. Dan memang waktu saya datang pembicaraan di situ kalau kita mau pukul anak kelas sebelas, tetapi bukan ada sasarannya seperti korban memang yang diincar, bukan," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News