UMI
Tak seperti Unhas, Universitas Muslim Indonesia (UMI) sepertinya masih abai terhadap penanganan kasus kekerasan seksual di kampus, walaupun Kementerian Pendidikan telah mengeluarkan Permendikbudriset No. 30 tahun 2021 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus. Namun, pihak UMI masih acuh dan seakan menutup mata.
Pengurus Setara UMI (lembaga yang berfokus pada penanganan kekerasan seksual di kampus UMI), Adel menyebutkan pihaknya masih menemukan banyak hambatan dalam menjalankan roda organisasi. Padahal katanya, kasus kekerasan seksual banyak terjadi di lingkungan kampusnya.
"Berdiri sejak tahun lalu, sebetulnya Setara UMI telah menyediakan ruang bebas kriminalisasi serta kekerasan seksual untuk mahasiswa. Walaupun kami belum merangkum data pengaduan untuk tahun 2022. Tapi, kebanyakan pelaku pelecehan seksual di UMI adalah teman atau senior kampus. Ada juga yang dilakukan dosen, tapi masih kabar burung. Belum ke tahap melaporkan," terangnya.
Nah, untuk memaksimalkan pergerakannya, tutur Adel, Ia perlu mendapatkan dukungan dari pihak kampus agar penanganan kasus kekerasan maupun pelecehan seksual bisa dilakukan secara maksimal.
Penanganan Internal Melalui Komite Etik UMI
"Kami sudah melakukan aksi demonstrasi untuk pengesahan Permendikbud no. 30, tapi pihak kampus belum merespon pembentukan satgas penanganan KS," terangnya.
Tak sampai di situ, pihak kampus, kata Adel justru mengarahkan penanganan kasus kekerasan seksual cukup dilakukan di komisi etik UMI saja.
"Tetapi kan itu juga dipertanyakan prespektif keperpihakkannya kalau kata mereka cukup diselesaikan di komite etiknya UMI saja. Keputusan ini yang agak susah," pungkasnya.
Baca Juga : Mahasiswa Unhas Gagas "Megapolis Water Sensitive" untuk Atasi Krisis Air dan Banjir Perkotaan
Tak Terungkap Memancing Pelecehan Seksual Lainnya
Nura (bukan nama sebenarnya) adalah satu korban kasus pelecehan seksual dari sekian banyak kasus yang tak pernah terungkap ke publik sehingga para pelaku pelecehan dan kekerasan seksual tersebut masih berpotensi melancarkan aksinya.
Salah satunya pun menimpa Risa (bukan nama sebenarnya), mahasiswi yang berpakaian tertutup ini pun tak membuatnya aman dari kasus pelecehan seksual.
Baca Juga : Kampus UNM Memanas Usai Rektor Dinonaktifkan, Polisi Diminta Usut Pelaku Penyerangan
Saat itu, Risa bersama kawan perempuannya sedang menunggu kelas dimulai, keadaan masih cukup sepi karena mahasiswa lainnya belum berdatangan di DH 301. Lalu tiba-tiba Risa didatangi teman kelasnya mencium kepala Risa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News